(Selow.co): Sontoloyo ternyata ada banyak genderuwo di negeri ini. Atau tanpa disadari jangan-jangan kita termasuk bagian dari mereka. Mapas!

Kalau pun kita bukan satu kaum dengan genderuwo, bukan berarti sudah bisa menghela napas lega. Karena boleh jadi para genderuwo itu mengejawantah pada orang-orang yang berada di sekitar kita.

Kalau memang iya lantas apa yang perlu dikhawatirkan? Ya jelas harus khawatirlah. Jangankan situ yang bukan siapa-siapa. Jaman sekarang ini para pembesar negeri ini juga pada khawatir -kalau nggak mau dibilang sawan- sama genderuwo. Kamu jangan sontoloyo ah, masa isu ramai begitu nggak tahu!

Coba sesekali baca Wikipedia cari tahu apa itu genderuwo. Di situs itu ada keterangan bahwa istilah penyebutan genderuwo akrab di kultur Jawa, sedangkan di Sunda lebih dikenal dengan sebutan gandaruwo. Lha, baru sebut namanya saja sudah terkesan angker. Apalagi lihat bentuknya. Jadi wajar kalau ada yang mewanti-wanti akan bahayanya genderuwo. Camkan itu!

Itu baru dari segi tampang. Kekhawatiran kita bakal menjulang seperti gunung kalau sampai tahu ulah sontoloyo si genderuwo. Salah satunya ya itu suka menggondol manusia.

Bayangkan kalau kita yang menjadi korbannya. Lagi asyik-asyik main gadget tiba-tiba kena towel sama genderuwo. Terus tanpa basa-basi langsung digondol dengan cara digendong di belakang. Pasti kita bakal merasa takut sekaligus jijik digendong kemana-mana sama almarhum Mbah Surip, eh sama genderuwo. Amit-amit, deh!

Soal sepak terjang genderuwo yang suka menggondol ini memang wajib diwaspadai. Meski tidak menampakkan wujud aslinya yang angker, jangan-jangan genderuwo memang sudah nyata hadir di antara kita sebagai makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya.

Itu bisa dilihat dari para pelaku pembunuhan sadis belakangan ini yang telah semena-mena ‘menggondol’ nyawa korbannya secara biadab. Bagaimana tidak biadab kalau sudah menggondol nyawa orang, lalu korbannya dimasukkan ke dalam drum atau dilipat di balik pintu lemari.

Kalau contoh itu masih kurang. Masih ada contoh perilaku biadab lainnya dari sifat genderuwo yang suka menggondol. Meski tidak sampai membunuh, namun perilaku ayah kandung yang telah menggondol mahkota anak gadisnya sendiri juga sudah jelas terkategori kebiadaban khas watak genderuwo.

Semua kekejian itu berlangsung riil di sekitar kita hari ini. Jadi kecemasan akan keberadaan genderuwo memang konkrit. Bukan hoaks.

Namun mengapa warning akan ancaman genderuwo itu baru dikumandangkan sekarang. Apa sebelumnya perilaku genderuwo belum semencekam sekarang? Entahlah.

Atau mungkin pula moral dan nurani anak bangsa di negeri ini sudah demikian melorotnya, sehingga para genderuwo yang bergentayangan merasa mendapat angin segar untuk merasuki alam pikir manusia, sambil membangkitkan watak keji yang memang sudah bersarang lama di pikiran orang-orang itu.

Kalau memang begitu runutannya, berarti salah satu upaya untuk membentengi diri dari terjun bebasnya moral dan akhlak manusia adalah dengan mendekatkan diri pada Tuhan.

Hanya saja selain punya bakat bengis, manusia juga disebut sebagai sarangnya lupa. Dengan demikian perlu ada yang mengingatkan. Harus ada rambu-rambu yang dapat membantu agar langkah dan perilaku tidak melenceng dari koridor yang sudah ditentukan.

Itu pula mungkin maksud dari keberadaan ratusan peraturan daerah (perda) berbasis agama di negeri ini. Celakanya, sudah ada bejibun rambu berbasis agama saja kondisi di sekitar kita masih dibayangi para genderuwo yang bergentayangan.

Apalagi kalau sampai ada yang menghendaki aturan-aturan itu dihapuskan. Lagi pula mengapa sampai kepikiran buat melarung perda-perda agama itu?

Apa masih ada kecurigaan terhadap nilai-nilai keagamaan yang dianggap sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman. Lalu menggantinya dengan aturan baru yang katanya lebih ramah terhadap paham toleransi dan lebih bersifat universal.

Kalau memang begitu anggapannya, bukankah itu sama saja dengan menuding ajaran agama sudah expired atau kadaluwarsa sehingga dianggap perlu segera diganti dengan stok baru.

Atau jangan-jangan usulan ganjil itu  karena terdorong oleh rasa gerah dengan aturan-aturan yang menghadirkan nilai-nilai keagamaan di kehidupan kita?

Ups! Kok bisa merasa gerah dengan nuansa keagamaan. Kalau diingat kembali bukankah hanya dedemit atau genderuwo dan kawanan makhluk halus lainnya yang dikenal takut dengan simbol-simbol keagamaan? Nah, lho…jangan-jangan?! (*)

Komentar

Scroll Up