(SELOW.CO): Pelita. Dulu, setiap asma kumat dan panas tinggi, saya selalu mengigau. Teriak-teriak ketakutan sambil menunjuk-tunjuk ke arah lemari jati mama.

LEMARI JATI ITU berwarna cokelat tua dengan ukiran bunga. Cantik sebenarnya. Tapi kalau sedang kumat, hiasan bunga itu seperti wajah monster mengerikan. Kelopaknya seperti mata raksasa, ranting-rantinya terlihat tak ubahnya taring menyeringai, bahkan batangnya yang besar seolah bisa berjalan dan menjulurkan tangan untuk menarik saya.

“Mama, itu monsternya ngedeket. Mama, bacain doa. Mama sini ajaaa…” Mama mendekat. Dengan tenang ia mengompres dahi saya sambil berzikir dan bersalawat. Lalu saya tertidur.

Tawakal, Jakarta Barat. Setiap libur panjang, kami ke Jakarta. Keluarga besar papa dan mama tinggal di situ. Tempat yang pasti kami singgahi adalah rumah Mama Ida, kakak mama yang bersuamikan dosen teknik di Trisakti. Kami memanggilnya Papa Mukhtar.

Pernah sekali saya ikut-ikutan kakak sepupu menonton film Dracula. Draculanya keluar dari peti. Wajahnya menyeramkan. Malamnya saya enggak bisa tidur. Kepala dipan yang bisa dibuka, mengingatkan saya pada peti sang dracula. Mau nangis, malu. Saya ingat betul, semalaman gelisah. Terus berdoa, tapi tetap enggak bisa tidur. Sampai terdengar suara mengaji, sepertinya saya baru bisa terlelap.

Pelita. Menjelang magrib, Mama wanti-wanti menutup pagar dan pintu. Ntar, tunggu, nanti adalah kata ampuh. Akhirnya pas azan baru deh saya bergegas menutup pagar. Entah imajinasi atau bukan, saya melihat anak kecil gundul berlari dari gang kecil depan rumah ke arah gang besar. Larinya cepat, tapi tak menapak. Seperti melayang, mirip jagoan-jagoan di film Brama Kumbara. Waktu itu enggak ada rasa takut. Cuman ngeliatin aja sampe makhluk itu menghilang di ujung gang.

Mendaki Tanggamus, SMA. Seorang sahabat ketakutan katanya ada sepasang kaki bergelantungan di pohon pisang. Hanya dia sendiri yang melihat. Akhirnya selepas salat magrib, kami membaca Surat Yasin bersama. Malam itu terasa berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Akhirnya, ingatan masa kecil menari-nari di kepala. Saya jadi ikut merasa takut.

Grogol, Jakarta Barat. Pulang dari kantor, lepas Isya, ngobrol-obrol dengan sepupu, anak kost, dan tetangga. Jam 9 malam, lagi asyiknya kami bercerita (duuh, terusin nggk yaa, kok jadi horor 😱😱) saya dan satu anak kost, Mas Hardi namanya, mematung. Kami jelas mendengar suara ‘hihihihi….’ dekat, tapi menggema. Astaghfirrullah..

Herannya, hanya kami berdua yang mendengar, sementara yang lain tetap ngobrol seperti biasa. Mas Hardi sepertinya sudah pengalaman, dia langsung membubarkan kumpulan, sementara saya nggak henti-henti baca ayat kursi.

“Uni kok wajahnya pucat?” tanya mereka. Pas saya ceritain sekilas, itu bocah pada berhamburan pulang. Alhasil, malam itu saya numpang tidur sama adek sepupu yang terkenal jagoan dan pemberani. Makasih, ya, adikku sayang Gaya Amalia. Deritamu punya kakak penakut akut. Xixixixi…

**

Tadi ada yang iseng memosting gambar mengerikan di grup wa. Aku shock! Karena ini menjelang tengah malam. Ini jam kritis, Rudolfoo! Huhuhu.

Teman, tolonglah jangan. Aku tahu rasa takut ini konyol, aku tahu kita makhluk yang paling sempurna, aku tahu kita harus berlindung pada Allah semata, aku tahu kita nggak boleh takut. Aku tahu, kok.

Tapi ya gimana, aku memang penakut kalau lihat gambar yang mengerikan atau berdarah-darah gitu. Beneraaan!!!

Tolong jangan diulang ya, Temans. Lihat deh akibatnya, sampe jam 2.51 aku belum bisa tidur walau sudah melantunkan zikir dan istighfar dengan khusyuk. Hiks…Syedih aku tuuu…

(*penulis cerita anak)

Komentar

Scroll Up