(Selow.co): Kalau bukan karena sudah terlanjur mengiyakan, kulit yang setengah mati dirawat ini mungkin masih tetap terjaga tanpa lecet….hiks! Tapi untung ada bunga teratai sebagai pengobat lara. Sesederhana itukah kebahagian saya?

Entah karena bawaan saya yang memang petakilan nggak bisa diam, atau lantaran besarnya rasa ingin tahu yang senantiasa meradang di benak, dengan enteng saya langsung mengiyakan tawaran seorang teman dari Komunitas Pemuda Trip Lebuay untuk ikut acara Nature Camp yang  mereka gelar awal November (Rain) lalu.

Bahkan saat berangkat pun saya belum bisa memastikan alasan mana sesungguhnya yang sudah menguasai saya ketika menjawab ajakan itu. Yang jelas ditemani seorang sohib, kami -kedua perempuan yang mirip merpati demen terbang melanglang buana ini- ingin membuktikan kepada kawan-kawan komunitas bahwa merpati yang ini bukan burung dara sembarangan, melainkan ‘merpati yang tak pernah ingkar janji’. Halah!

Oh iya, lokasi kemah berada di Bukit Kabut Banjaran, Lebuay, Air Naningan, Tanggamus. Hmmm…mendengar namanya yang ada embel-embel ‘kabut’ itu saja adrenalin saya sudah terpacu. Pasti indah dan romantis tempatnya, pikir saya ketika itu.

Let’s go, deh. Merpati siap terbang. Motor sudah dipanaskan semenjak tadi. Saya dan Windi Safitri berboncengan. Kami start dari Pringsewu. Berdua doang? Awalnya memang iya. Tapi sesuai janjian sebelumnya, kami bakal nyamperin kawan-kawan lain yang sudah menunggu di daerah Kebumen.

Sesampai di sana semangat saya makin berkobar saat melihat keceriaan kawan-kawan yang sudah menunggu. Agaknya, bakal seru perjalanan ini. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belum lagi rombongan beranjak, hujan deras turun mengguyur. Semangatku yang tadi membumbung mendadak kempes bak kerupuk diseduh kuah bakso.

Sekelebat saya melirik Windi. Dia balas menatap. Kiranya kami sama-sama cemas membayangkan kondisi rute yang bakal dilalui. Sebelumnya saya sempat mendapat bocoran sekilas tentang track yang akan dilalui untuk menuju TKP.

Dibekap kabut nan pekat.

Rutenya membelah hutan, menyusuri jalan setapak, mendaki dan menurun dengan tebing menganga di bagian kanan atau kiri. Malah ada salah satu bagian yang medannya manteng menanjak sepanjang 1 kilometer. Ulala! Rute model begini nih yang punya tipikal suka menari di atas penderitaan para pendaki, dan punya prinsip ‘jangan kasih kendor!’

Kali ini rasa percaya diri saya yang justru krisis. Nyali mendadak kendor mirip karet gelang habis dipakai ikat sapu lidi. Gimana nggak, kalau dalam kondisi normal saja medannya sudah begitu berat, apalagi usai diguyur hujan begini, kuy?!

Sekejap sempat terlintas niatan untuk mengajak rombongan balik kanan, lalu membuka camp di pantai yang jaraknya jauh lebih mudah dijangkau. Saya juga langsung kebayang sama logistik yang sudah saya siapkan bareng Windi dari rumah. Ada cumi-cumi, daging ayam dan bakso yang sedap kalau disantap di pinggir pantai.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya ini siapa. Panitia bukan, kok mau nekat merubah rencana yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Sedangkan untuk balik kanan pulang ke rumah rasanya kok sama terhinanya. Bisa rusak reputasi saya sebagai ‘merpati yang tak pernah ingkar janji’ di mata anak-anak komunitas.

Di tengah kebimbangan itu, hujan lambat laun mereda. Mendadak terdengar komando dari leader untuk segera memulai perjalanan. Masih dalam keadaan gamang saya dan Windi manut. Berboncengan motor kami ikut arus rombongan kecil berisi 4 motor itu. Sejenak saya melirik jam yang melingkar di tangan, pukul 2 siang.

Alamak, mau jam berapa sampai di tujuan? Sementara perjalanan baru akan dimulai menuju pos pertama yang berada di Air Naningan. Ya sudah deh pasrah saja, sudah terlanjur terbang, pikir saya sambil menahan rasa gusar di jok belakang. Motor pun melaju di jalanan yang kuyup sehabis disiram hujan.

Kegusaran itu kontan mendapat jawaban saat motor yang dikendarai Windi tiba-tiba tergelincir. Gubrak! Tanpa ampun kami berdua langsung ngegelosor di pertigaan Pasar Tekad, Talang Padang. Saya dan Windi meringis menahan nyeri di bagian kaki dan lengan yang kecetit. Beneran perih, cuy!

Tapi perlu diingat selain sebagai merpati tak pernah ingkar janji, saya juga merpati yang sudah terbiasa menelan pil pahit, jadi selow aja! (Aduh,….tukang urut mana?!!!)

Tanpa menunjukkan rasa belas kasihan pada kami yang baru dizolimi aspal jalan (hehehe….peace, bro!) rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Tapi formasi dirubah. Windi tidak lagi mengendarai motor.

Tepat pukul 1 siang kami tiba di pos pertama. Langit yang sebelumnya sudah sedikit cerah, kembali berubah pikiran. Awan gemawan lagi-lagi bersekutu membentuk mendung menggelayut. Di pos ini jumlah rombongan semakin banyak. Saya juga melihat beberapa di antaranya perempuan dan wajah mereka sama memendam cemas seperti saya.

Tak ingin membuang waktu, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini saya ditandemkan bersama seorang joki motor trail untuk menuju posko dua yang berada di Dataran Lebuay.

Di tengah perjalanan awan mendung tak kuasa lagi menahan beban air. Pertahanan awan berhasil dirobek. Air tumpah dalam bulir-bulir yang langsung menerpa wajah dan tubuh saya yang sudah mengkerut menahan dingin, sekaligus menahan cemas melihat rute medan yang benar-benar ekstrim.

Telaga berteman teratai, pengobat temaram hati.

Meski basah kuyup akhirnya rombongan sampai juga di pos dua. Saat turun dari motor saya masih berasa tidak menjejak bumi. Lutut saya masih gemetaran. Sungguh pengalaman bermotor yang belum pernah saya alami sebelumnya. Dan tak ingin saya ulangi lagi. Sumpah, nyawa saya kayak ngejambak-jambak rambut saya karena kayak sudah tertinggal di belakang saat naik motor tadi.

Saya pun sudah tidak terlalu menggubris keberadaan puluhan petualang, menurut panitia jumlahnya mencapai 80-an, yang sedang rehat di posko dua ini. Saya menepi, duduk terhenyak di sembarang tempat sambil memastikan nyawa saya yang hampir copot sudah berada di posisinya semula.

Lepas Maghrib perjalanan dilanjutkan menuju puncak Bukit Kabut Banjaran. Padahal gerimis masih getol turun rombongan. Saya tersedak. Alamak, harus naik motor lagi dengan situasi gelap. Sedangkan tadi disaat sore saja kondisi jalan sudah begitu mencemaskan, apalagi sekarang dikala jubah gelap sudah ditebar merata menutupi pandangan. Saya basah kuyup tapi sekaligus berasa sedang keluar keringat dingin.

Kekhawatiran yang sama juga membekap Windi dan beberapa peserta perempuan lainnya. Sambil dibekuk kecemasan saya sempat mencoba melobi panitia agar diperbolehkan menempuh sisa perjalanan dengan berjalan kaki. Tapi panitia kompak menggelengkan kepala. Mereka malah telah mempersiapkan beberapa motor dengan joki-joki terbaik untuk memboyong kami para kaum hawa pada kloter pemberangkatan pertama.

Sontak saya nggak bisa berbuat apa-apa selain manut. Sepanjang perjalanan yang basah dan gelap praktis saya meringis. Nyawa saya yang seakan sudah mau lepas kembali menjambak-jambak rambut saya. (Sakit monyet!) Bukannya melonggarkan jambakan, nyawa saya malah tambah sewot dan makin keras mencengkeram rambut saya. Hadeh! Pokoknya perasaan saya sudah nggak karuan saat itu.

Hingga tibalah saya di puncak bukit. Tak ingin mengingat pengalaman mencekam yang baru saya lewati, saya langsung rebah di tenda dan terlelap berselimut letih.

Saat terbangun di pagi hari, mendung masih menggelayut. Kabut tebal merangsek membatasi penglihatan. Harapan bisa menikmati pemandangan alam nan indah dari ketinggian yang sebelumnya sempat saya pelihara di benak mendadak buyar. Sejauh mata memandang kabut tebal berkelindan dengan mendung yang muram.

Untungnya seorang kawan membimbing kami ke arah semacam telaga kecil. Permukaan airnya terlihat tenang dan teduh. Saya yang sudah merasa letih lahir batin sempat terkesiap melihatnya. Apalagi koloni kembang teratai dengan bunganya yang merah dan menjulang seakan menyuguhkan kharisma tersendiri.

Saya menatap lekat himpunan teratai dan hamparan air tersebut. Cukup lama saya berasyik masyuk dengan nuansa romantik yang begitu saja muncul di pikiran dan hati saya.

Sungguh, bulan November memang memendam keindahannya tersendiri. Tak heran kalau grup band Guns N Roses yang gelagat personilnya terkesan liar, namun mampu dibuat bertekuk lutut oleh buaian hujan di bulan November.

Lagu November Rain yang mereka ciptakan seakan menggambarkan isi hati saya ketika itu. Yah, isi hati ‘merpati tak pernah ingkar janji’ yang  luruh di kharisma November nan mendung. (*Jurnalis dan Traveler dari Pringsewu)

Komentar

Scroll Up