(SELOW.CO): Bagaimana mungkin kita masih membaca media massa yang tidak punya empati, bahkan terhadap orang yang sudah mati?

LHO KOK bawa-bawa media segala, lagi pula apa hubungan antara orang mati karena bunuh diri dengan pemberitaan media tanpa empati?!

Jelas ada. Bahkan sangat erat kaitannya. Begini, beberapa waktu lalu khalayak dikejutkan oleh peristiwa bunuh diri pada sebuah pusat perbelanjaan di Lampung. Di era digital seperti sekarang informasi tersebut segera saja tersebar luas. Bahkan beredar pula video yang memperlihatkan jalannya kejadian mengenaskan itu secara gamblang.

Perhatian besar publik terhadap peristiwa ini langsung disambar pengelola beberapa media online yang sedang kelaparan trafik untuk mendongkrak peringkat portal beritanya. Bagi makhluk-makhluk sejenis itu peristiwa bunuh diri tak ubahnya kabar gembira. Mata para penyembah berhala “bad news is good news” tersebut langsung mendelik nanar.

Tak pelak, segala hal yang berkenaan dengan peristiwa naas itu tak luput dari peliputan mereka. Mulai dari kronologi detik-detik berlangsungnya kejadian hingga meng-interview para saksi mata, seraya tak lupa menampilkan ilustrasi provokatif.

Lalu disusul dengan suguhan pemberitaan yang memuat identitas pelaku, seraya mengorek-korek berbagai hal yang berkenaan dengannya, terutama aktivitas sesaat sebelum korban mengakhiri hidupnya. Semua diketengahkan semata demi memberi sesajen trafik bagi website sesembahannya yang sudah dianggap sebagai sumber penghidupannya.

Apakah cukup sampai di situ saja? Ow, nanti dulu. Sesembahan yang satu ini terbilang rakus setali tiga uang dengan para penyembahnya. Sesajen yang disorongkan tadi baru sebatas makanan pembuka. Ritual menjaring trafik harus terus dilanjutkan.

Menu santapan berikutnya ialah mengulik latar belakang pelaku bunuh diri. Dimana rumahnya, bagaimana situasi saat jenazah malang itu disemayamkan, siapa nama kedua orangtua dan sanak saudaranya, bagaimana tanggapan mereka, jangan lupa mintakan pula pendapat para tetangga dan rekan-rekan pelaku bunuh diri.

Sudah? Belumlah, peliputan belum tuntas. Masih bisa dipanjangkan lagi, mumpung beritanya sedang hangat dan rasa ingin tahu publik juga masih antusias. Geber terus dengan rentetan berita pemakaman, sambil dibumbui keterangan aparat kepolisian. Kemudian tambahi lagi dengan pendapat satu atau dua pelayat.

Sambil jangan lupa, nanti malam satroni lagi rumah duka. Siapa tahu sedang digelar ritual keagamaan, lumayan buat pemberitaan. Kini tuntas sudah. Segala sesuatunya sudah dipaparkan dan akan terekam secara digital sepanjang masa.

Perkara keluarga korban bunuh diri kemudian akan trauma dengan gencarnya pemberitaan dan bakal terus mendapati berita bunuh diri anaknya, kakak atau adiknya di dunia maya, itu bukan urusan redaksi.

Mungkin bila didedah benak orang-orang yang katanya jurnalis itu isinya melulu ketidakpedulian. Sangat mungkin pikiran kapitalis mereka dengan enteng bakal bilang kepada keluarga korban, “Terima dan telan saja kegetiran fakta hidup ini sebagai musibah yang tak terhindarkan. Semoga diberi kesabaran dan kekuatan. Ini cobaan. Dan kami hanya menjalankan tugas jurnalistik.”

Menjengkelkan bukan? Tak heran kalau Dewan Pers pun ikut gemas mendapati pemberitaan bunuh diri di berbagai media yang seakan ditulis tanpa empati apalagi sanubari. Mirip perilaku bar-bar yang berpesta di atas kesengsaraan orang lain.

Keprihatinan itu diungkapkan Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo. Menurutnya tidak sedikit media yang menurunkan pemberitaan bunuh diri atau upaya bunuh diri secara detil bahkan kebablasan.

Malah tak jarang dibikin tak ubahnya infotainment. Pemberitaan tanpa empati terhadap keluarga korban serupa itu, ditengarai juga dapat menginspirasi atau ditiru pihak yang juga mau melakukan aksi bunuh diri (copycat suicide).

Berangkat dari keprihatinan ini, melalui focus group discussion (FGD) mengenai pedoman pemberitaan pada kasus bunuh diri, Dewan Pers menyampaikan draf Panduan Meliput Kasus Bunuh Diri. Panduan tersebut ditargetkan akan segera diresmikan.

Secara umum isi panduannya senafas dengan Panduan Pemberitaan Bunuh Diri untuk Media yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2008.

Dari 14 poin yang diatur dalam draf tersebut beberapa di antaranya menyebut begini, jurnalis (mesti) mempertimbangkan secara seksama manfaat sebuah pemberitaan bunuh diri. Kalau pun akan diberitakan maka isinya harus diarahkan kepada concern atas permasalahan yang dihadapi pelaku.

Jurnalis juga harus menyadari bahwa pemberitaan kasus bunuh diri bisa menimbulkan traumatik kepada keluarga pelaku, teman, dan orang-orang yang mengenal pelaku. 

Dan, media tidak mengeksploitasi pemberitaan kasus bunuh diri dengan cara mengulang-ulang pemberitaannya.

Semoga portal-portal berita bedebah yang telah riang gembira memberitakan kasus-kasus bunuh diri secara bar-bar itu bisa terketuk hatinya. Bahwa mereka tetap menjadi jurnalis meski tidak mengeksploitasi berita kasus bunuh diri.

Tapi sangat mungkin traumatik keluarga pelaku bunuh diri tetap akan terus membekas disepanjang kehidupan mereka. Untuk urusan yang satu ini saya memang pantas menyebut para budak-budak berita recehan semacam itu sebagai bedebah tanpa hati nurani. (*)

Komentar

Scroll Up