(Selow.co): Apakah para tersangka yang sudah pakai rompi orange made in KPK dilarang keras tersenyum, apalagi tertawa lebar sambil dadah-dadah?

Pertanyaan ini penting diajukan mengingat masih banyak pemirsa televisi yang dongkol kalau melihat tayangan tersangka korupsi atau tangkapan OTT ke luar gedung KPK sambil tersenyum atau menyeringai (culas).

Rasa sebal itu bakal makin tebal manakala si tersangka masih sempat melambai-lambaikan tangannya di antara kerumunan wartawan. Entah apa yang ada di pikiran para tahanan itu, sampai merasa pantas bersikap bak artis beken yang sedang menyapa fansnya. Begitu kurang lebih komentar para pemirsa yang memendam kesal.

Tak puas sampai di situ, gerundelan mereka tak jarang diteruskan sambil mengungkit-ungkit kadar keimanan si tersangka.

“Para koruptor itu memang pantas disebut orang tak beriman,” maki pemirsa. Gimana nggak, coba? Sudahlah imannya cuma alakadarnya, lantas menyusut drastis sebagian setelah hangus diberangus dosa korupsi yang diperbuat.

Celakanya, iman yang tinggal tersisa secuil itu, malah dihambur-hamburkan dengan perilaku tak pantas (ketawa-ketawi sambil mengumbar dadah). Benar-benar perilaku nggak punya malu, kan?

Padahal, kita sama-sama tahu, kalau rasa malu merupakan sebagian dari iman. Lha, kalau rasa malu sudah raib, berarti tandas pula stok keimanannya. Iya, toh?

Begitu kira-kira rentetan nyinyir yang menyembur dari mulut pemirsa yang terlanjur kesumat dengan para koruptor. Pendek kata, para koruptor itu tak ubahnya pecundang, jadi tak perlu lah banyak gaya.

Sebab mau bergaya model apa pun di mata pemirsa garis keras tetap saja terlihat tak lebih dari kutu busuk, penghisap darah rakyat! Atau dipandang tak kurang menjijikan dari tikus got yang suka main kotor dan mengerat duit negara yang didapat tak jarang dari hasil hutang ke negara lain.

Tapi, kendati koruptor dianggap pengkhianat bangsa, mestinya sikap para pemirsa garis keras tidak perlu sampai seekstrim itu. Bukankah para koruptor nantinya juga bakal menerima ganjaran hukum yang katanya bakal setimpal dengan kesalahannya. Jadi jangan lah sampai dihakimi berkali-kali lewat sanksi moril.

Sebaliknya, para pemirsa seharusnya bisa bersikap sedikit lebih pengertian, karena boleh jadi sebentuk senyum atau tawa dan lambaian tangan yang dilakukan para koruptor itu merupakan ekspresi tanda syukur.

Iya sebentuk rasa syukur. Maksudnya, mereka bersyukur atas teguran Tuhan yang sudah memberi KPK fakta dan alasan kuat untuk menghentikan tindak kejahatan mereka. Itu kan bukti kalau Tuhan masih sayang kepada koruptor-koruptor itu supaya tidak terjerumus lebih dalam ke lembah nista.

Seandainya para pemirsa terhormat bisa lebih mengedepankan sikap welas asih dalam menanggapi perkara ini, diyakini pasti akan dapat berempati sekaligus bersimpati terhadap sebentuk ekspresi taubat ala-ala para koruptor itu.

Tapi kadang-kadang serba salah juga. Sebagai orang Indonesia yang katanya masih memegang kuat adat timur yang ramah tamah dan punya kecenderungan pemaaf, serta cepat melupakan kesalahan orang dan lebih memilih mengingat-ingat kebaikannya, tak jarang justru dijadikan sasaran empuk untuk dikelabui. Dikasih sedikit kamuflase saja sudah gampang dikecoh. Ulala…!

Bukti terbaru ya pada saat Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar, terciduk lewat operasi tangkap tangan oleh komisi anti rasuah pada 12 Desember lalu.

Irvan bersama sejumlah pejabat setempat diduga menagih jatah imbalan 14,5 persen atau setara Rp 46,8 miliar dari 140 sekolah menengah pertama yang mendapat DAK. “Diduga alokasi fee untuk bupati sebesar 7 persen,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan.

Saat ke luar dari Gedung KPK, Irvan yang sudah mengenakan rompi khas rancangan KPK itu, tidak tampak mengulum senyum apalagi mengumbar tawa. Ia malah memasang tampang memelas layaknya orang terzalimi. Dari keterangan singkatnya dikesankan dia sebagai korban atas perbuatan anak buahnya. Uhuy!

Para pemirsa ‘nyinyir’ yang sudah manteng di depan televisi sedikit kecewa dengan tampilan Irvan. Padahal, mereka sudah bersiap bakal memborbardir Bupati Cianjur ini, kalau sampai kedapatan cengar-cengir nggak jelas.

“Lho, kok dia nggak pose. Apa tren gaya koruptor tangkapan KPK sudah mulai bergeser?” celetuk seorang pemirsa sambil menelan pil pahit kenyataan tak sesuai ekspektasi.

Tapi rasa kecewa mereka tidak berlangsung lama. Karena sebentar kemudian diperoleh kabar bahwa ribuan publik Cianjur justru sedang uforia merayakan penangkapan Irvan. Ironis bukan, disaat bupatinya sedang gelagapan di balik dinding tahanan KPK, rakyatnya malah meluapkan kegembiraan dengan menghelat “Selamatan Ngaliwet” di Alun-alun Cianjur.

“Huhhh!” dengus pemirsa garis keras saat mengetahui kontradiksi tersebut. Mereka jelas lebih memercayai kemurnian nurani rakyat Cianjur yang merasakan langsung ketidakpuasan saat berada di bawah kepemimpinan bupatinya yang dicokok KPK, ketimbang hanyut dengan sandiwara Irvan. Hampir saja terkecoh!

Kita juga tentu masih ingat bagaimana ketika Fahmi Darmawansyah yang tiada lain suami Inneke Koesherawati, ditangkap KPK lantaran kasus suap. Saat digelandang ke mobil tahanan, Direktur PT Melati Technofo Indonesia ini, tidak mempertontonkan ‘selebrasi’. Dia juga tidak mengkambinghitamkan anak buahnya seperti manuver yang dimainkan Irvan.

Kalau pun mau dicari kesamaannya, keduanya memang sama-sama pasang muka memelas. Malah, biar tampak dramatis, saat diwawancarai awak media Si Fahmi memaknai azab eh musibah yang merundungnya sebagai ‘Skenario Allah’ yang mesti dijalaninya dengan lapang dada. Mungkin dia mau bilang bahwa apa yang dilakoninya itu sebagai bagian dari ibadah karena sudah menjalankan kehendak-Nya. Ehem!

Bahkan, dia juga sempat mengajukan diri sebagai justice collaborator. Dengan kata lain Fahmi mau bekerjasama dengan penyidik untuk menguak pelaku lain dalam kasus yang menjeratnya. Mulia banget kan niatannya. Tapi apa lacur KPK langsung menolak mentah-mentah tawaran itu.

Fahmi malah dianggap sebagai otak atau dalang dari kasus penyuapan dalam proyek pengadaan satellite monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Duh…, selain itu KPK juga geregetan lantaran Fahmi masih keukeh tidak mengakui perbuatannya.

Seperti biasa, ada sebagian pemirsa televisi yang mengikuti pemberitaan tersebut sambil menunjukkan rasa simpati. “Kasihan, dia jadi tumbal,” gumam beberapa pemirsa jatuh iba.

Tapi seperti biasanya juga pemirsa garis keras tetap konsisten dengan style-nya yang nggak mau kasih kendor menghujat koruptor. “Halah, kalau sudah ketangkep aja mendadak berubah kayak orang alim, omongannya sontak bijak, pakai bawa-bawa ‘skenario Allah’ segala!” cerca mereka.

Tapi kalau dipikir-pikir memang pedas juga cemooh pemirsa garis keras itu. Pecel karet dua aja kalah pedas. Tapi mau bagaimana lagi, kalau sudah watak kan memang susah dirubah. Apalagi kalau bawaannya memang sudah biasa curigaan, ya semua tindak-tanduk orang pasti bakal dicurigai tidak baik. Yah, mendekati suuzon atau malah fitnah, kayaknya. Setidaknya begitu komentar pemirsa yang hatinya mudah tersentuh saat menilai sepakterjang rekannya yang tergabung dalam kubu pemirsa garis keras.

Namun, alangkah terkejutnya mereka saat terbetik kabar di televisi bahwa Fahmi yang sedang menjalani hukuman di Lapas Sukamiskin, kembali berurusan dengan KPK.

Pada 5 Desember kemarin, di dalam persidangan perdana mantan Kepala Lapas Sukamiskin, Wahid Husen, terungkap fakta mengejutkan. Melalui dokumen tim penuntut setebal 19 halaman terkuak, bahwa Fahmi telah menyuap Wahid agar diberi ijin membangun ‘bilik asmara’ di dalam lapas.

Pasti tahulah bilik asmara yang dimaksud digunakan untuk apa. Tapi jangan membayangkan saat Inneke Koesherawati sedang bersama Fahmi di dalam bilik berukuran 2X3 meter persegi itu. Bisa pusing sendiri nanti dibuatnya.

Tapi kreativitas Fahmi tak berhenti sampai disitu. Walau berada di lapas naluri bisnisnya terbukti tidak padam. Atas restu kalapas ia malah menyewakan bilik asmara yang dibuatnya itu pada tahanan lain dengan ongkos Rp650 ribu sekali check-in.

Praktik bisnis kotor ini diendus KPK dan Fahmi kembali diseret ke meja hijau, sekaligus masa tahanannya dipastikan bertambah.

Bagi pemirsa garis keras berita televisi, kabar ini jelas menggembirakan. Sebab secara tidak langsung telah melegitimasi kebenaran insting mereka untuk tidak mudah percaya pada koruptor. “Apa gue bilang, sekali maling ya tetap maling. Yang kayak begitu tuh yang mestinya pantas ditabok bolak-balik, Pak!” Lho-lho….kok bawa-bawa si Bapak itu?! (*)

Komentar

Scroll Up