(SELOW.CO): Petugas keamanaan pontang-panting buru dua pembobol ATM yang ngacir sambil menghamburkan duit Rp50 ribuan di tengah keramaian pengguna jalan. Warga terpanggil bahu membahu ringkus si penjarah yang sedang kalap buang-buang duit bak Tuan Takur atau malah lebih tergiur menghambur ke limpahan hujan duit dadakan itu?

SEBENTAR YA, sebelum meneruskan cerita “hujan duit”, kita flashback sejenak mengingat sosok rekaan Robin Hood yang digambarkan hidup
di Inggris pada era pemerintahan Raja Richard Lionheart (kalau pernah nonton filmnya yang diperankan Kevin Costner tentu sudah paham jalan ceritanya).

Kemunculan bandit yang doyan merampok itu, dipicu oleh diberlakukannya forest law (hukum perhutanan). Roobin Hood berang karena menganggap peraturan tersebut membikin rakyat susah. Sebagai bentuk penentangan ia balik mengerjai para bangsawan kerajaan yang korup. Harta mereka dirampok dan dirampas hingga tandas.

Ketika tahu ada yang berani mengangkangi kaki tangan penguasa, rakyat menaruh simpati. Mereka makin kesengsem pada sepak terjang Robin Hood karena harta hasil jarahannya dibagi-bagikan ke kaum fakir. Tak heran kalau si Robin kemudian menjadi buruan utama aparat kerajaan, sekaligus ditabalkan sebagai pahlawan bagi rakyat.

Lantas apa kaitannya dengan kejadian kriminal yang berlangsung di Jl. Urip Sumoharjo, Wayhalim, sekira pukul 9.30 wib, Selasa (5/Maret/2019) silam. Apa mau disama-samain antara kisah heroisme Robin Hood dengan para pembobol ATM di area Lampung Walk tersebut?

Tentu jauh berbeda. Ibarat langit dan bumi. Kalau si Robin menjarah tanpa motif mencari keuntungan pribadi, sedangkan 2 penjarah ATM yang akhirnya berhasil diringkus security Lampung Walk (3 anggota komplotan lainnya berhasil kabur dengan mengendari mobil) jelas niat banget mengumbar nafsu duniawi menghalalkan segala cara buat meraup fulus. Tabur-tabur duit yang mereka lakukan bukan karena niat ikhlas berbagi, melainkan lebih untuk menggoda iman warga agar tidak fokus menangkap mereka.

Tapi bukankah Robin Hood maupun kawanan pembobol ATM itu sama-sama sudah bikin happy rakyat?

Di cerita Robin Hood rakyat memang begitu mendukung tindakan pahlawannya itu. Bahkan mereka berdoa dan melindungi Robin agar tidak diberangus aparat. Bagaimana dengan para warga di TKP Jl. Urip Sumoharjo tadi, yang menurut saksi mata begitu kalap berebut lembaran duit yang ditabur para pencoleng?

Bukankah mereka juga ikut riang gembira tanpa memerdulikan asal uang yang diperebutkan. Bahkan warga juga tidak menggubris upaya security yang mempertaruhkan keselamatannya untuk membekuk pembobol ATM.

Ah, berebut rezeki nomplok kan hal yang realistis di zaman ini. Apalagi bagi yang benar-benar sedang membutuhkan duit. Lumayan kan kalau dapat selembar gocap ceng sudah bisa dipakai beli tiket nonton film Dilan 1991 yang konon kabarnya berhasil menangguk 3 juta penonton hanya dalam kurun waktu 5 hari saja.

Miris, ya? Ah, tak usah terlalu kaget soal empati yang sudah minggat dari warga atau malah kita sendiri, bukankah belakangan ini perilaku yang menyesakkan semacam itu sudah kerap berseliweran.

Coba saja ingat beberapa video yang viral di medsos saat seorang pemuda malang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari ketinggian Transmart Lampung, beberapa waktu lalu. Dalam video yang merebak luas di warganet terdengar ucapan perempuan yang sedang merekam detik-detik peristiwa tragis itu.

Sambil mengarahkan ponselnya ke pemuda yang terlihat berdiri di bibir gedung, dengan enteng perempuan itu menyarankan agar si pemuda segera melompat. Mungkin demi mendapatkan gambar yang dramatis. Sampai akhirnya si pemuda benar-benar terjun. Meski belum tentu keduanya terkait langsung.

Yang lebih memprihatinkan si perekam malah berkomentar girang karena sarannya jadi kenyataan. “Gue bilang lompat, dia lompat beneran. Dia denger omongan gue”. Kurang lebih begitu komentar tanpa empati yang terdengar di video.

Masih perlu contoh lain? coba ingat juga bagaimana postingan seorang pemuda di Kemiling yang justru lega mendapati sebagian wilayah pesisir Kalianda digulung tsunami yang memakan banyak korban jiwa itu. Sungguh sikap diluar logika normal kemanusiaan, tapi itu nyata adanya.

Atau kalau mau contoh lebih konkrit, lihat saja ulah para pengendara mobil yang sangat congkak enggan memberi ruang bagi ambulance yang  sedang membawa pasien sekarat dan perlu penanganan medis segera. Menjijikan, bukan?

Entahlah sudah terbang kemana empati kita sebagai manusia yang katanya sebagai orang timur dan memiliki rasa kepedulian tinggi. Tak tahu pula sudah raib kemana nurani kita selaku manusia berketuhanan. Atau mungkin kepekaan mata hati sudah dibutakan oleh mata uang, dan egosentris serta sikap individualistis sudah terlanjur merajai benak dan sanubari.

Oh iya, ngomong-ngomong, katanya banyak juga pejabat sekarang yang berlagak seperti Robin Hood menyantuni anak yatim piatu atau infaq membangun masjid dengan sebagian kecil duit hasil korupnya. Yang begini mestinya didukung atau?…krik! krik! krik! (*)

Komentar

Scroll Up