(SELOW.CO): Kalau mau tahu seluk beluk gimana rempongnya pindah rumah, atau malah pindahan antarkota, boleh deh tanya ke saya. Asal tahu aja, perkara kayak gitu saya sudah khatam berkali-kali. Untungnya saya jenis emak-emak yang tahan banting.

BESAR DI BANDARLAMPUNG, kemudian belum genap seminggu menikah sudah mengekor suami melanglang buana ke Palembang. Hanya hitungan bulan bertahan di Kota Empek-empek, kami sudah beringsut lagi hijrah ke pinggiran Jakarta. Lalu geser ke Depok, lantas menyeberang hingga Batam, sampai kemudian balik lagi ke Balam.

Huh, sungguh petualangan yang nggak bisa dibilang enteng. Butuh 10 tahun untuk menjalaninya. Ada banyak cerita dan perubahan selama kurun waktu tersebut. Dari yang sebelumnya nggak punya ekor, pulang-pulang sudah berbuntut dua. Ha ha…produktif kan, biarpun katanya repot tapi untuk urusan yang satu itu mesti tetap disempat-sempatinlah. Ahay….!

Yang jelas dari berbagai kota yang saya singgahi ada banyak pengalaman yang mendewasakan diri. Sungguh, hidup di perantauan itu nggak mudah. Apalagi kalau dikait-kaitkan dengan status saya di rumah ortu sebagai satu-satunya anak perempuan dan bungsu pula, yang semenjak dari buaian sudah dimanjakan dengan segala kemudahan. Lalu tetiba berumahtangga dan memulai hidup baru dari nol di seberang pulau. Duh! Benar-benar ngenes kalau dikenang.

Dari sekian banyak kenangan dan pengalaman yang teruntai di perantauan, ada satu hal penting yang bisa saya petik hikmahnya. Saya jadi belajar untuk tidak terlalu mencintai kebendaan. Misalnya, jadi terbiasa membeli sesuatu sesuai kegunaan, agar kelak jika harus pindahan lagi dan terpaksa berpisah dengan barang-barang yang ada tidak terlalu merasa kehilangan.  Rumah, furnitur kesayangan atau peralatan rumah tangga nggak ada yang dibeli berdasar brand dan prestise. Buat apa? Toh, kapan-kapan harus ditinggal pindah lagi.

Sebaliknya, saya jadi makin paham betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga dimana pun saya berdomisili, kendati untuk sementara sekalipun. Imam besar Hasan al Banna pernah mengingatkan dengan sebuah kata-kata yang menyentuh, “Tinggalkanlah setiap kebaikan di kota manapun yang pernah engkau tempati”.

Prinsip ini yang terus saya coba genggam. Bersikap baik terhadap kerabat -dalam hal ini bisa teman baru atau tetangga di perantauan. Harapannya, semoga setiap kebaikan yang pernah ditabur bisa membekas pada para tetangga, hingga suatu saat mengejawantah menjadi sebentuk kerinduan dalam ikatan benang merah persaudaraan.

Yang terakhir saya bisiki, pindah itu berarti kerempongan luar biasa dan membutuhkan dana yang tak sedikit. Dilema memang. Nano-nano perasaan yang berkecamuk. Terlebih saat harus melepas semua barang yang biasa menemani tugas sehari-hari untuk dilego murah.

Belum lagi, bila dihadapkan dengan anak yang sudah sekolah. Mengurus kepindahan itu memerlukan tenaga, waktu dan biaya yang juga tidak murah.

Tak terkira juga keletihannya, meski packing dan tetek bengek lainnya akhirnya terselesaikan dengan baik.
Banyak hal tak kasat mata yang lebih membebani punggung. Semisal, adaptasi anak-anak di lingkungan baru, psikologis suami yang mungkin naik turun di tempat kerja baru, bahkan saya sendiri sebagai perempuan harus menekan rasa keterasingan di kota yang serba baru.

Lalu ketika semuanya kembali normal di mana sekarang sudah kembali di kota kelahiran. Ada wacana ibukota negara ingin dipindahkan?

Duh, jadi ikutan gatal pengen komentar. Sudahlah Bro, saya rasa ini bukan waktu tepat untuk wacana yang sepertinya terdengar spektakuler itu. Sebab akan butuh perencanaan matang, dana super jumbo dan waktu yang ndak sebentar pula.

Bukankah untuk sekarang di negeri ini masih bertumpuk persoalan krusial lainnya yang lebih mendambakan sentuhan campurtangan pemerintah buat mengurainya?

Salah satu perkara yang tidak kalah besar dan genting, misalnya, menjaga perhitungan suara yang fair dan menunggu keputusan KPU, eh! Keceplosan… (*Ibu rumah tangga dan penulis fiksi)

Komentar

Scroll Up