(SELOW.CO): Beberapa hari menjelang hari pencoblosan di balik bilik suara, yang paling bonyok babak belur dikeroyok seabrek kerjaan adalah petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara).

BAYANGKAN, cuma dengan tujuh orang, mereka harus meladeni ratusan mata pilih dengan segala jurus dan modusnya.

Jelas, itu tak semudah manuver oknum tim sukses yang bergerilya sambil mencangking keresek sembako ke rumah-rumah. Enaknya lagi, hadirnya “setan subuh” (baca: tim sukses) itu memang ditunggu-tunggu penampakannya oleh kebanyakan warga. Bro and Sis termasuk yang ikut nunggu, enggak? Hihi…

Seperti setan subuh sebenarnya yang suka menggandul di kelopak mata jemaah yang mau beranjak subuhan, “setan subuh” musiman itu pun punya motif yang mirip dengan saudara gaibnya, yakni menggantungkan bingkisan sembako di mata pemilih agar mereka tak mampu melihat calon pemimpin yang berhati bersih. Horor-horor sedap, ya…

Kalau bahas soal curang-mencurangi, bikin dada tetiba engap. Kita lanjutkan saja ke kisah heroik petugas KPPS kita yang penuh suka-dukanya.

Sepekan sebelum hari H, para anggota KPPS biasanya mulai mengguyur kerjaan. Beberapa tugas sebenarnya tidak membutuhkan keahlian super. Namun, lantaran banyak, amanah dari KPU itu terasa begitu melelahkan, misalnya mengisi kolom undangan pada formulir C6. Kemudian, survei lokasi untuk tempat TPS berdiri. Jika bertemu dengan tuan tanah “bermata hijau”, bukan tidak mungkin dia meminta uang sewa atau sekadar uang rokok.

Usai titik TPS ditentukan, masih diteruskan memesan tarup. Karena alokasi anggaran cuma buat tarup, maka untuk meja-kursi, rampel, taplak meja, papan petunjuk, dan pernak-pernik lainnya, para bapak KPPS harus melobi istri mereka agar mau merelakan perabotannya dipinjam. Dengan embel-embel untuk kepentingan negara dan tidak setiap hari hajat akbar ini digelar, biasanya “orang rumah” luluh. Tentu, dengan catatan, saat dikembalikan itu perkakas harus kinclong seperti sedia kala.

Babak yang seru ialah saat menyebarkan undangan. Sembari menunaikan tugas, dalam tahap ini kita diberi bonus diganjar pahala bersilaturahmi. Tak seperti undangan nikahan atau khitanan, kita tidak bisa menyelipkan lembaran C6 ini di bawah pintu. Sebab, saat serah-terima surat, harus ada tanda tangan dari perwakilan keluarga. Tak jarang, untuk undangan satu rumah saja, kita mesti bolak-balik sampai tiga kali. Yang repot kalau kebetulan yang harus disambangi berkali-kali itu rumah mantan. Bisa gagal move-on, tuh! Haha…

H-1 menjelang pemilu, saatnya skill mendekorasi dan kemampuan angkat-mengakat barang kita diuji. Mereka dituntut untuk menyulap TPS dengan tata ruang yang nyaman bagi peserta dan panitia. Dalam tahap ini, para warga biasanya guyup ikut membantu. Imbasnya, kadang sering terjadi perdebatan sengit meski hanya menentukan di mana meja tinta diletakkan. Hadeuh…

Maka itu, jangan harap ini kerjaan bakal kelar sehabis isya. Biasanya dilanjutkan menerima tamu dari kepolisian, Bawaslu, saksi, dan aparat kelurahan hingga larut malam. Padahal, besok dari pagi buta harus standby melotot seharian.

Habis subuhan, petugas KPPS sudah mulai bergegas. Menyiapkan baju sopan, pantofel, minyak wangi, dan pastikan sarapan dengan menu yang tidak bikin perut mulas sewaktu bertugas nanti. Pukul tujuh “tet”, rangkaian acara dimulai. Suasana seketika berubah sakral saat ketua KPPS mengambil sumpah para anggotanya.

Nah, meski masih pagi, sudah ada lho pemilih yang nongol. Pertimbangannya, mereka ingin langsung bekerja usai mencoblos. Terkadang, ada yang harus bekerja pagi, tapi doi datang saat antrean sudah banyak. Biasanya, si dia sekonyong-konyong bisa fasih berbahasa isyarat, memberi kode ketua KPPS untuk didahulukan. Ini yang dilema. Sebab, jika pemilih lain, apalagi emak-emak, sadar anterannya dilangkahi, bisa geger dunia persilatan.

Pendekatan humanis dan tetap sabar harus benar-benar diterapkan pada tahapan ini. Terlebih, saat ada warga awam yang kesal tak dipanggil-panggil, sementara dia daftar hanya bermodal KTP elektronik tanpa undangan. Menurut aturan, mereka berhak memilih di atas jam satu. Tapi, enggak semua lho memahaminya meski kita melegitimasinya dengan aturan KPU.

Lanjut, yang bikin deg-degan ialah saat penghitungan suara. Semua mata memandang ke papan hitung. Satu suara saja selip, alamat saksi meminta hitung ulang. Capek, deh! Meski lelah dan tingkat kecermatan itu tidak berbanding lurus, tak ada toleransi. Pokoknya, tak ada kata lelah. Hajar bleh!

Pilpres yang berbarengan pileg sekarang sebenarnya memunculkan kegundahan di hati petugas KPPS. Terang saja, biasa cuma satu jenis surat suara yang dihitung, kini lima kali lipatnya. Bisa-bisa, mereka bakal terpaku di TPS hingga sehari-semalam. Ini berat, kita enggak akan kuat, biar mereka yang berhati mulia saja yang menjalaninya.

Dengan sepenggal deskripsi sepak terjang mereka ini, kita bisa merasakan kerepotan petugas KPPS dalam melayani kita sebagai warga. Kalau mau ditimbang-timbang, beban kerja yang mereka emban sangat tidak sesuai dengan honor yang masuk (kalau sempat) ke saku mereka.

Mereka mengantongi uang lelah Rp500 ribu atas segala tetesan keringat dan perasan pikiran selama sekitar dua pekan. Tetapi, ya itu, dorongan hati yang kuat demi berbakti pada masyarakat menjadi bahan bakar pemicu semangat bagi para KPPS itu untuk terus bergeliat. Sejatinya, mereka adalah tembok kuat untuk sehatnya demokrasi di negeri ini. Salut!

Beberapa waktu lalu, masuk pesan siar ke ponsel saya tentang bakal adanya dugaan perlakuan spesial KPPS terhadap calon tertentu. Begitu mudah jari-jemari tak bertanggung jawab itu membangun ujaran kebencian. Kalau mau mantengin langsung para petugas KPPS, yuk sama-sama husnuzon sembari kita kawal kinerja mereka. Satu lagi, jangan golput, ya! Selamat berpesta…

(*Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up