(SELOW.CO): Sudah deh berhenti menghujat Romahurmuziy alias Rommy. Apalagi dia itu pemimpin, lho. Malah bukan pemimpin sembarangan. Dia pemimpin berwatak nasionalisme, religius dan moderat. Jarang kan pemimpin yang punya karakter komplit kayak gitu.

APA MASIH kurang mentereng tuh klaim yang disampaikannya. Masih kurang adiluhung? Hadeh. Berhentilah mencaci-maki. Terlebih Rommy sudah dipakaikan rompi orange dan gelang borgol, sekarang malah sedang meringkuk di penjara KPK. Kurang apalagi coba. Apa semua itu belum dianggap sebagai ganjaran setimpal?

Oke, kalau memang merasa belum puas. Sekarang ini, walau dianggap sebagai “kawan kita” oleh Pak Jokowi tapi terhitung sejak mondok ke tahanan praktis eksistensi Rommy sebagai salah satu petinggi di jajaran tim kampanye nasional (TKN) sudah  kena stip, dihapus dari gerbong. Lha iya, siapa juga yang mau dekat-dekat sama orang yang sedang berurusan dengan KPK. Bisa-bisa ikut kena getahnya.

Nyaris berbarengan dengan momen tersebut, Rommy juga ditendang dari kursi Ketua Umum PPP. Duh, miris banget bukan. Padahal kalau mau sejenak menengok sejarah partai ini, boleh jadi orang-orang yang sudah tega menyepaknya, nanti justru bakal berbalik berterimakasih padanya. Kok bisa?

Bisa saja. Bukankah Ketum PPP sebelumnya, Suryadharma Ali, juga pernah tersandung perkara hukum kasus korupsi haji lalu dibui. Tapi cerita baiknya PPP yang dipimpinnya ketika itu yang diprediksi tak akan lolos ke parlemen pemilu 2014, nyatanya mampu melewati lubang jarum ujian.

Nah, siapa tahu cerita lama berulang kembali, setelah Rommy menyusul jejak pendahulunya tersebut. Sebab kali ini pun PPP di bawah nakhoda Rommy ramai ditengarai tak akan lolos ke parlemen. Jadi sejarah partai ini memang mirip “lagu lama yang diputar ulang”.

Tapi kalau dicermati lebih lanjut bukankah untuk hal ini sesungguhnya Rommy sudah memberi sinyal melalui “Surat Terbuka untuk Indonesia” yang dibagi-bagikannya ke insan pers sesaat sebelum digelandang ke penjara KPK?

Coba saja simak surat tulisan tangannya. “Musibah yang menimpa suatu kaum akan menjadi manfaat dan faidah untuk kaum yang lain“. Tuh, apa saya bilang, Rommy tak seburuk yang kita sangka, kok. Dia rela menjadi martir untuk kebaikan orang lain.

Mari kita lanjutkan membaca surat dari Rommy. Asal tahu saja, bahwa penangkapan dirinya itu tiada lain sebuah jebakan betmen. Hah?! Iya, jebakan. Sebuah perangkap buat mengganjal langkahnya sebagai pemimpin partai yang nasionalisme, religius dan moderat seperti pengakuannya. Masih juga nggak percaya? Baca deh baik-baik klarifikasinya.

Saya merasa dijebak dengan sebuah tindakan yang tidak pernah saya duga, saya pikirkan, atau saya rencanakan bahkan firasatpun tidak. Itulah kenapa saat menerima sebuah permohonan silaturahmi di sebuah lobi hotel yang sangat terbuka dan semua tahu bisa melihatnya. Ternyata niat baik ini menjadi petaka“.

Tuh, kan Rommy dijebak. Dia sudah mau berbaik hati bersedia menjalin silaturahmi dengan pihak-pihak mana pun. Bukankah silaturahmi itu hal penting dalam pandangan agama, karena bisa memperpanjang umur dan meluaskan rezeki. Kalau pun saat OTT KPK didapati ada duit di TKP coba ditanyakan baik-baik ke Rommy apakah itu bagian dari rezekinya atau bagaimana. Tolong didengar deh omongan Rommy.

Memang, Rommy pernah ‘terselip lidah’ saat mengaku pernah meminta Ustaz Abdul Somad dan Aa Gym agar bersikap netral menghadapi pilpres. Tapi belakangan Aa Gym malah tanya balik, kapan ngomongnya. Cuma sekali itu mungkin Rommy khilaf.

Sedangkan tentang UAS, meski sampai sekarang tidak pernah menanggapi ucapan Rommy, tapi sehari pasca Rommy distempel berstatus tersangka, UAS terlihat mengunggah status di instagramnya.

Beliau bercerita perihal ulama besar bernama Imam Ar-Rahamurmuzy yang hidup tahun 265-360 hijriyah. “Nama lengkapnya Imam al-Hasan ibn Abdirrahman ibn Khallad ar-Ramahurmuzy,” tulis UAS. “Setelah kitab Ilmu Hadits karya beliau muncul, baru kemudian disusul kemunculan kitab-kitab Ilmu Hadits lain,” tambah UAS.

Karuan saja para netizen yang merasa maha tahu dan sok paling benar sendiri menganggap status UAS dimaksudkan untuk menyindir Rommy. Apa bukan fitnah namanya. Walau nama keduanya sepintas terkesan mirip tapi jelas kedua orang itu berbeda.

Kalau Romahurmuziy alias Rommy kan sempat ramai dijuluki “makelar doa” karena dianggap gegabah meralat doa kiai besar Mbah Moen. Sedangkan al-Hasan ibn Abdirrahman ibn Khallad ar-Ramahurmuzy adalah ulama ahli hadist.

Jadi jelas berbeda banget, kan. Sekali lagi, coba jangan selalu memberi stigma kurang sedap pada Rommy. Kasihan dia. Sudah jatuh masih tertimpa tangga plus tukang yang sedang naikin tangga itu. Tak ada salahnya kalau sesekali kita mempercayai ucapannya, seperti pengakuannya yang merasa dijebak itu, contohnya.

Kalau menurut saya kali ini Rommy berkata jujur. Sangat jujur, malah. Dia memang kena jebakan. Iya benar, kena perangkap syaiton. Bukankah setan memang demen menjebak manusia. Menjebak pakai harta dan tahta.

Bijimana, sekarang sudah mulai terang benderang kan kalau Rommy memang benar-benar sudah kena jebak. Semoga kali ini kita bisa hakul yakin memercayai ucapannya. Aamiin. (*)

Komentar

Scroll Up