(SELOW.CO): Seorang jurnalis dan alumnus Fakultas Pertanian menerbitkan sebuah novel. Di sela pekerjaannya menampilkan fakta, ia ternyata juga mampu meramu fiksi di alam pikirannya. Bagi saya itu keren tak terhingga.

Saya bertemu pertama kali dengan orang itu, Hendri Std, saat menjadi pembicara sekaligus pembahas di acara Riungan Prosa dan launching novel perdananya, #KawanLama. Jujur, ngeri-ngeri ngilu nggak pede berhadapan dengan ramainya undangan yang terdiri dari para jurnalis, mahasiswa, emak-emak smart, penggiat literasi, blogger dan orang kantoran.Secara saya kan penulis buku cerita anak. Terhubung dengan novel adalah karena saya penikmat cerita fiksi lalu meresensinya untuk dimuat di media masa. Sebatas itu, tak lebih.

Dan kalau bukan karena persahabatan, ingin rasanya pesan go car trus bilang sama moderatornya, “Bah, tiba-tiba aku mules, nih. Pamit pulang dulu, ya..” Hihihi. Tapi kan nggak mungkin. Bakal dijitak bolak-balik ama Abah @Adian saputra.

Akhirnya, dengan mengucap bismillah, saya siap membedah novel Kawan Lama. Menikmati keseruan berada di antara tiga orang pemred yang kadang bikin minder sekaligus hepi semringah.

Bersyukurlah yang datang ke acara ini. Selain mendapatkan buku gratis dan menikmati aneka hidangan, banyak sekali yang tersenyum haru bahagia berjumpa dengan para sahabat, termasuk saya. Alhamdulillah.

Bagaimana pendapat saya mengenai buku setebal 448 halaman ini? Cekidot. Semoga berkenan, Kawan…

Idealisme Sang Jurnalis

Kisah seorang jurnalis nyaris selalu menarik untuk diperbincangkan. Bagaimana ia menghadapi tantangan mencari narasumber,  mendapatkan dan memverifikasi informasi, mengatasi konflik, hingga berdamai dengan perasaaannya sendiri, adalah pengalaman unik yang sejatinya bisa menginspirasi siapa saja.

Novel #KawanLama

Novel #KawanLama diawali dengan kegelisahan jurnalis muda, Pramoedya, saat menanti seseorang untuk mengklarifikasi sebuah berita. Namun yang datang bukan yang sang narasumber, melainkan tiga lelaki bertubuh kekar yang tiba-tiba saja keluar dari sebuah mobil lalu mengepung Pram dan memberi pukulan. Tentu saja Pram kaget. Ia hendak melawan namun sayang  tenaganya tak mencukupi.

Di saat kritis itulah datang dua petugas kemanan hotel. Pram akhirnya selamat dari tindakan intimidasi tersebut. Baginya, hal receh seperti itu tak akan menyurutkan semangatnya dalam menjalankan tugas. ‘Ia tak pernah memberi ruang bagi rasa frustasi, bahkan untuk sekadar singgah di pikirannya’. (hal 23)

Marah dan kecewa Pram bertambah manakala Rustam –atasannya- malah bermain mata dengan narasumber tersebut. “Berita Cipto tidak perlu kita lanjutkan lagi. Halaman depan bisa diisi dengan berita lain…” (hal 31). Mendadak Pram merasa asing di kantornya sendiri. Idealisme dan bisnis, adalah dua kata yang membuatnya risau. Maka, pada seorang barista perempuan bernama Rapika, perasaan itu ditumpahkan. Pram memutuskan keluar dan pekerjaannya.

Satu lagi perempuan yang membersamainya adalah Larasati, rekan kerja ketika Pram masih bersama Rustam. Sama dengan Rapika, Larasati juga selalu mensupport semua keputusan Pram dan selalu ada saat ia membutuhkan. Terkadang Pram bingung dengan perasaannya, bagaimana bisa ia merasa nyaman berada di dekat kedua perempuan hebat itu.

Sampai di bagian ini, kita sudah bisa menerka-nerka kepribadian sang tokoh utama. Bahwa Pram adalah lelaki yang memiliki sense of jurnalism yang tinggi dan tak suka berbenturan dengan sesuatu yang dianggapnya berbahaya. Secara sikap, ia terlihat lemah. Tapi secara prinsip, ia kokoh dan cukup tangguh.

Keheningan pasca resign, membuat Pram mengambil keputusan untuk membuat taman di rumah peninggalan orangtuanya. Bergegas Pram meminta semua teman masa lalunya berkumpul. Ada  Fery seniman gambar, Wendy pemusik, Sapta fotografer, dan Renan yang mempunyai impian besar membuka bengkel.

Mereka berkolaborasi, berdiskusi, memilih tanaman, makan, bercerita, tertawa bersama. Pram merasa senang dan tenang berada di lingkaran persahabatan yang utuh dan manis. Kawan lama membuat hidupnya lebih bermakna. (halaman 50)

Hingga suatu hari Pram dipertemukan dengan Pak Wisnu oleh Tommy, kenalannya. Pak Wisnu adalah seorang fashion desainer terkenal, lelaki parlente yang ingin memiliki media sendiri berisi potensi wisata daerah seperti kuliner, traveling dan seluk beluk kehidupan budaya masyarakat Lampung. Awalnya Pram ragu untuk bisa terlibat, tapi kedua orang itu terus membujuk dan menumbuhkan kepercayaan dirinya. Singkat cerita, Pram akhirnya bersedia menjadi  pemimpin redaksi media tersebut. (halaman 122)

Apakah semua berjalan baik-baik saja? Ternyata tidak. Justru di sinilah Pram ditimpa malapetaka yang membuat emosinya campur aduk. Antara kesal, gelisah, marah, sayang, hangat dan penuh cinta. Semua mengkristal dan sulit diurai satu persatu.

Wisnu yang dikenal sebagai lelaki beruntung karena sudah mempunyai keluarga,  karir bagus dan mapan ternyata seorang biseksual. Salah satu alasan Wisnu mendirikan media cetak adalah demi mengincar laki-laki muda untuk dijadikan korban. Awalnya Pram tak curiga ketika Wisnu mengusulkan dua orang model-nya menginap di salah satu kamar di kantor dengan alasan mempermudah pemotretan.

Namun setelah mendengar laporan ditemukannnya alat kontrasepsi dan adanya laporan pelecehan seksual dari office boy yang juga tetangganya, Pram naik pitam dan sangat yakin bahwa ada yang salah dengan Wisnu.  Maka Pram akhirnya mengajukan surat pengunduran diri lalu pergi begitu saja. (halaman 320).

Tindakan Pram yang tidak sungguh-sungguh berusaha meminta penjelasan dari Wisnu, bisa jadi membuat pembaca kecewa. Padahal kalau saja penulis bisa lebih dalam menggali konflik, buku setebal 448 halaman ini akan lebih asyik untuk dinikmati.

Selain aroma persahabatan, penulis juga memunculkan kisah romantisme antara Pram, Rapika dan Larasati. Sampai di pertengahan cerita, pembaca masih mereka-reka pada siapa hati Pram ditambatkan. Nah, menjelang akhir, barulah Pram secara jelas melabuhkan cintanya pada Yasmin, anak Wisnu, lelaki biseksual.

Sayang sekali kisahnya terpotong. Pembaca tak mendapat gambaran bagaimana hubungan keduanya akan berlanjut dan ini menimbulkan rasa penasaran (Atau mungkin penulis sedang mempersiapkan sekuelnya?) Kekurangan lainnya antara lain; pemaparan konflik yang kurang greget, salah ketik di beberapa kata, ending yang manis walau terasa datar dan prolog yang terlalu panjang menuju inti cerita.

Namun walau begitu, ada beberapa hal menarik selain warna dan desain covernya. Pertama, penulis dengan manis mampu menarik pembaca untuk hanyut ke dalam kenangan masa lalu. Cerita Pram yang berhasil menumbuhkan  semangat berjuang pada empat sahabat kecilnya dengan mengajarkan  kepenulisan, memberi pemahaman bahwa persahabatan dibangun bukan berdasarkan kepentingan, tapi tersebab kasih sayang dan rasa sepenanggungan.

Kedua, penulis cukup detail menampilkan setting tempat dan waktu dengan apa adanya dan terasa akrab dengan pembaca. Ketiga, diksi yang mudah dicerna dan  layout yang nyaman untuk dinikmati. Keempat, alur cerita maju yang runut dan tak membingungkan.

Oh iya, satu lagi kekurangannya adalah penulis dan editor sepertinya lupa untuk memberi nomor ISBN yang sejatinya adalah tugas penerbit. Fungsi ISBN (International Standard Book Number) antara lain sebagai identitas  sebuah buku, membantu memperlancar proses distribusi, sarana promosi bagi penerbit dan penulis, memberikan kemudahan bagi pembaca untuk meresensi dan mengirimkannya ke media masa dan memudahkan melacak keberadaan buku karena sudah terdaftar di Perpustakaan Nasional.

Bagaimanapun, saya sangat mengapresiasi buku keren ini. Semoga akan lahir buku kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dari sang Hendri Setiadi. Salam literasi! (*Penulis, bisa dijumpai di instagram: @fitri_restiana dan FB: fitri restiana)

Komentar

Scroll Up