(SELOW.CO): Katanya dia selebritisnya Negeri ILC yang dipimpin oleh Presiden Karni Ilyas. Katanya dia juga biang penyebar virus pada kalangan muda yang mendadak menjadi Plato-Plato junior. Pendukung akal sehat dan seteru para dungu ini, memang terlanjur jadi buah bibir

JUJUR, SAMPAI HARI INI saya tidak tahu banyak soal Rocky Gerung -selanjutnya saya sebut Bung Rocky- kalau gelar Prof-nya masih debatable, saya tahu. Selebihnya yang saya tahu tentang Bung Rocky hanya sebatas dari pemberitaan yang saya baca.

Kini, sepertinya segala tentangnya mulai menarik diikuti. Jangan salah sangka dulu. Bukan soal sepak terjangnya didunia politik. Pun soal dukung mendukung capres cawapres. Kalau untuk urusan ini saya sama sekali tidak tertarik.

Sungguh, saya sama sekali tidak tertarik soal siapa yang menjadi presiden, terlebih perihal debat kusir antarpendukung. Sungguh sia-sia. Seingat saya, hanya sekali saya ikut pemilihan umum. Jika tak salah ingat sewaktu pilpres 2004 atau 2009 gitu, kan lupa, kan. Alasannya bukan lantaran saya pendukung golput ya, tapi karena biasanya pas pemilu, malah ikut Quick Count atau liputan…hehe. Tapi pemilu tahun ini diusahakan saya ikut memilih lagi lah.

Nah, balik lagi ke Bung Rocky. Saya mulai tahu doi ini sejak rekan kerja saya di Kompas TV, Cindy Tania mulai sering diskusiin tentangnya. Meski malu-malu, saya bisa tahu ia diam-diam meresapi cuitan-cuitan Bung Rocky. Juga salah satu teman yang nama medsosnya Kutu Bocah itu. Ia sepertinya juga pengagum pria yang jika memegang mic itu sangat khas.

Karena dia, saya jadi ingat mata kuliah di kampus dulu. Filsafat Ilmu dan Dasar-Dasar Logika. Kalau tidak salah, saya dapat B di dua mata kuliah itu. Dosennya dulu hobi banget dengan diksi Ansich, dan “diksi-diksi langitan” lainnya. Ketika menyebut diksi-diksi itu, intelektualitas diri seperti bertambah 60 persen.

Jadilah saya terkesan dengan yang namanya filsafat, meski nggak paham-paham amat. Sebagai anak Sosiologi, apalagi pengagum Teori Sosiologi Klasik, berasa keren kalo yang dibahas itu bukan cuma Marx, Daendels, Hegel, dan kroni-kroninya. Tapi juga bahas Socrates, Descartes, Aristoteles, Plato, dan nama-nama yang terdengar asing nan ajaib lainnya.

Terlebih kalau sudah ngomong soal Silogisme. Uh, berasa tampan bener. Kepercayaan diri meningkat tajam. Kayak grafik suara capres-cawapres versi lembaga survei pesanan masing-masing. Ups!

Sewaktu ke Jakarta tahun 2009, saya ngotot minta temani seorang kawan pegiat pers mahasiswa Universitas Negeri Jakarta untuk ke Kwitang yang ternyata sudah direlokasi. Bukan cari buku “Aku” nya Sjuman Djaya tentang perjalanan hidup Chairil Anwar, yang jadi buku wajib penggila AADC itu. Bukan. Saya belinya buku “Manifestasi Dialektika dan Logika (Madilog)” nya Tan Malaka, serta beberapa majalah Play Boy Indonesia edisi awal. Sungguh perpaduan yang syahdu, bukan? Ehem!

Dalam kuliah filsafat dan logika itu, saya dapat satu bagian pelajaran mendasar logika, yakni Silogisme. Juga dari “Madilog”nya Datuk Tan. Nah, kebetulan sekarang saya sering dengar Bung Rocky itu selalu bawa-bawa kata Silogisme kemana-mana. Tentu untuk mendukung pemikiran-pemikirannya yang ia tuangkan di medsos atau berbicara di depan umum.

Silogisme, ini makna yang saya dapati dari KBBI daring: “n, cara berpikir atau menarik simpulan yang terdiri atas premis umum, premis khusus, dan simpulan (misalnya semua manusia akan mati, si A manusia, jadi si A akan mati)”.

Waktu masih aktif di pers mahasiswa dan diberi kesempatan menulis kolom sendiri, saya pernah membuat sebuah Silogisme. Begini bunyinya “Semua manusia mati, Rektor itu manusia. Rektor pasti mati”. Silogisme itu saya buat sebagai bentuk protes keras naiknya biaya kuliah di kampus. Di mata saya kampus sudah seperti toserba pendidikan. Waktu itu. Sekarang? Makin parah. Hadehhh!

Bung Rocky ini seolah-olah menghidupkan kembali minat saya kepada dunia filsafat yang, sampai sekarang saya pun nggak mudeng sama sekali itu. Apalagi jika baca “Dunia Sophie” yang nggak rampung-rampung. Makin kliyengan. Saya seolah ditarik lagi hingga ke masa Socrates hidup. Saya pun pernah, dengan pengetahuan yang sejumput ini, menulis tentang gurunya Plato tersebut, sang Mahaguru filsafat. Socrates kala itu, dengan pemikiran-pemikirannya keliling negeri.

Menentang kepercayaan yang dianut orang-orang di negerinya. Ia mengumpulkan orang di pasar, di ladang dan di mana-mana. Ia melakukan pendekatan logika, mungkin filsafatis. Namun, waktu itu ia banyak berbicara tentang konsep Ketuhanan. Kepercayaan yang tentu saja ditentang penguasa negeri dan warga yang masih percaya Dewa Dewi. Berhala.

Hingga akhirnya Socrates dihukum mati, ia tak meninggalkan secuplik tamsil pun tentang pemikirannya. Hingga Plato, sang murid, yang membukukan kisah hidup Socrates dalam “La Apologia”. Socrates mati dengan membawa keyakinannya.

Socrates maju melawan pemimpin negeri dengan keyakinannya. Socrates tak takut disebut gila. Ia lebih memilih mati ketimbang tunduk. Socrates tidak banyak berdalih dan beralibi tentang keyakinannya. Setelah itu, keyakinan Socrates mungkin hanya dibahas di bangku-bangku kuliah. Orang mulai abai dengan sesuatu yang filsafatis. Orang banyak memuja realitas. “Hidup ini harus realistis,” begitu katanya.

Hingga sosok berambut putih serta hobi memakai jeans dan kaus berkerah itu muncul. Dengan segala logikanya, dialektikanya, filsafatnya, lantang mengkritisi pemimpin negeri. Dus. Tak segan-segan saya menyebutnya Socrates Zaman Millenial. Ia Rocky Gerung. Sang pemilik ratusan ribu pengikut setia di medsos. Pria flamboyan yang menyebut semua orang yang tak sepaham (atau tidak maksud dengan jalan pikirannya) dengan dungu atau ‘bong’.

Saya anggap Bung Rocky adalah representasi Socrates. Kerap berbicara lantang. Membawa filsafat dan Silogisme-nya kemana-mana. Menyalahkan orang yang tak sependapat. Dan tentu saja yang membuat para pengikut mayanya kesengsem adalah satir-satirnya yang menghunjam jantung. Apalagi ditunjukkan bagi penguasa yang dianggap tak becus mengurus negara. Anak-anak bau kunyit yang tak paham sama sekali dengan filsafat pun, sekejap menjelma menjadi master-master filsafat yang ikut mata kuliah Filsafat 12 SKS. Mereka menjadi Plato-Plato junior yang dadakan.

Hingga pada puncak pemikirannya, Bung Rocky menyatakan Kitab Suci itu Fiksi (padahal kajian filsafat kami dulu di kampus dengan kawan-kawan nongkrong lebih ekstrem, sampai mempertanyakan Tuhan itu ada atau tidak, aih).

Tentu saja pro kontra terjadi. Menurut Rocky, fiksi itu adalah sesuatu yang bersifat imajiner dan itu baik. Seorang tante saya yang mungkin tak sependapat dengan Bung Rocky menulis di kolom medsosnya.

Bunyinya: “Dalam kajian filsafat, surga dan neraka itu fiksi sampai nanti dibuktikan keduanya fakta atau fiktif. Tetapi di dalam agamaku, surga neraka itu fakta, bukan karena sudah terbukti tetapi karena keimanan. #RJ”

Lihat itu, tante saya sampai tak mau kalah dengan inisial Rocky Gerung (RG). Ia pun membuat tagar dengan inisial namanya itu. Biar viral mungkin. Rocky keukeuh memakai kata-kata yang filsafatis untuk membela argumennya. Tentu banyak masyarakat Indonesia yang jadi dungu dibuatnya.

Sampai akhirnya Bung Rocky dipolisikan. Sebuah konsekuensi logis atas pernyataan yang dipublikasikan ditengah-tengah adanya UU ITE. Saya lantas berkhayal. Sang Socrates masa depan itu melawan. Tak kenal takut. Tak banyak berdalih. Tak banyak alasan. Hadapi pemimpin yang zalim itu menurut dia. Hadapi hukum. Bila perlu hadapi hukuman mati dengan membawa keyakinan.

Setelah itu, saya yakin, di Era yang serba instan ini, akan banyak youtuber atau artis medsos yang akan mengenang jasamu di dunia filsafat Indonesia. Mereka akan mengunggah ungkapan belasungkawa, sambil merutuk, “sungguh dungu, kalian, Bong!”

(* Kabiro Radio Elshinta Lampung)

Komentar

Scroll Up