(SELOW.CO): Pemberitaan dan sosial media sempat ramai setelah mengetahui Ustad Abdul Somad (UAS) secara khusus memberi hadiah minyak wangi gaharu kepada Prabowo. Emang seberapa istimewanya minyak gaharu?

APAKAH KALAU pemberian itu dilakukan di luar masa kampanye pilpres efeknya juga akan seviral ini? Ah, kita tidak sedang membicarakan politik, deh. Sudah terlalu riuh. Walau faktanya banyak yang uring-uringan karena UAS hanya memberi hadiah pada Prabowo, tok!

Justru yang tidak kalah menarik, kenapa UAS sampai kepikiran kasih minyak wangi gaharu dan tasbih natural stone dari Persia yang diakui sebagai benda kesayangannya itu?

Bukankah biasanya malah ustad atau kiainya yang diberi hadiah atau amplop seperti yang dilakukan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, pada seorang kiai tersohor, belum lama ini. Eh, ini termasuk ngebahas politik bukan, ya?!

Oke, kita balik lagi ke soal minyak gaharu. Memang sih saat memberikan hadiah tersebut UAS sudah memberi penjelasan. Menurutnya, minyak gaharu itu diharapkan bisa membikin Prabowo wangi di hadapan rakyat. Dan tasbih dimaksudkan biar Prabowo banyak berdzikir agar hati tak kosong.

Kalau soal wangi bukankah dalam kesehariannya, apalagi saat akan bertemu orang banyak, pasti Prabowo memakai minyak wangi. Malah boleh jadi minyak wangi mahalan dari merek ternama. Bukan minyak wangi pasaran yang banyak berderet di rak-rak Alfa Mart dan Indomaret tentunya.

Tak pelak hati terdorong untuk mencari tahu dari Mbah Google seputar keistimewaan (minyak) gaharu. Saat ditelusuri memang mengejutkan, setidaknya bagi saya pribadi.

Malah ternyata bukan hanya UAS yang menaruh perhatian besar terhadap minyak gaharu. Raja Salman yang dikenal sebagai Raja Arab Saudi ketujuh juga menyebut-sebut gaharu saat berkunjung ke Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ketika itu sang raja bertandang ke Masjid Istiqlal. Dia meminta agar ada pewangi dari kayu gaharu di toilet masjid. Agaknya Salman memandang istimewa pada gaharu. Ternyata Hajar Aswad di Mekah juga diolesi minyak hasil olahan kayu gaharu.

Demikian pula di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di kedua tempat suci itu gaharu kerap dipakai pada beberapa acara penting, seperti acara wisuda Tahfidh dan penyucian atau pembersihan Ka’bah.

Gaharu dipakai guna menebar wewangian demi menyenangkan jiwa peziarah. Terlebih, menurut salah satu hadits, para malaikat juga demen yang harum-harum.

Saat penelusuran diteruskan di mesin pencarian, didapati keterangan fisik bahwa kayu gaharu memiliki warna hitam dan mengandung resin (getah) khas. Getah yang mengandung minyak dan senyawa aromatik inilah yang dimanfaatkan sebagai sumber wewangian oleh industri parfum.

Sudah segitu doang keistimewaannya? Ow, ternyata tidak. Gaharu merupakan tanaman langka di dunia. Saking populasinya terbatas pada 1994 konvensi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) di Amerika Serikat menetapkan gaharu spesies A. malaccensis masuk ke dalam Appendix II, yaitu tanaman yang dibatasi perdagangannya.

Sejauh ini 20 spesies tanaman gaharu hanya bisa ditemui di sebagian kecil belahan bumi. Sebaran alaminya ada di Asia Tenggara, Tiongkok, sampai India. Di Indonesia sendiri terdapat 6 spesies di antaranya yang tumbuh di Pulau Kalimantan, Papua, Sulawesi dan Sumatera.

Bila berminat mengenal lebih jauh tentang gaharu, bisa kok menghubungi Asosiasi Gaharu Indonesia (Asgarin). Siapa tahu kamu bertangan dingin serta mampu berkecimpung pada budidaya dan bisnis gaharu yang menggiurkan.

Sebab, bagaimana tidak menggiurkan kalau kayu gaharu jenis AB super diberandol hingga Rp72 juta lebih. Sedangkan yang berjenis double king dilabeli tak kurang dari Rp700 juta lebih. Hmmm….nggak berlebihan kan kalau gaharu dijuluki Biang Wangi yang Bikin Tajir Melintir.

Tapi diyakini ada keistimewaan lain yang lebih istimewa dari kayu gaharu. Ternyata selain Hajar Aswad, Batu Makam Nabi Ibrahim, Daun Tin yang sangat berjasa bagi Nabi Adam dan Cincin Nabi Sulaiman, pohon Gaharu juga dipercaya sebagai benda surga yang ada di bumi.

Memang tak keliru pemberian UAS berupa minyak wangi gaharu. Setidaknya secara filosofis ada makna tingkat tinggi yang turut serta bersama sebotol kecil minyak gaharu yang kini berada di kantong baju Prabowo.

Namun pasca pertemuan itu yang merebak santer justru aroma peringatan yang dilontarkan Bima Haria Wibisana. Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) ini, menganggap pernyataan dukungan terbuka UAS terhadap Prabowo sudah merupakan tindakan politik praktis.

“UAS sudah berpolitik praktis. Itu tidak boleh. Apalagi sebagai dosen PNS. Walau dengan alasan sedang cuti sekalipun, tetap tidak bisa,” tukas Bima.

Memang belum ada tanggapan dari UAS akan hal ini. Namun sepertinya kita sedikit dapat memaknai ucapan UAS sesaat sebelum mengakhiri perjumpaannya dengan Prabowo. “Apa yang terjadi setelah ini kita serahkan sama Allah. Sukses selalu, Pak. Sama-sama kita berdoa kepada Allah.”

Mungkinkah doa tersebut juga dimaksudkan untuk menjawab ‘peringatan’ yang (kemudian) disampaikan Bima? Yah, yang akan terjadi, terjadilah. Tak ubahnya minyak gaharu yang menguarkan harum semerbak, mungkin UAS punya keyakinan pengorbanannya (dirisak oleh kalangan tertentu) kelak bisa tercium wangi. Bisa saja, toh?! (*)

Komentar

Scroll Up