(Selow.co): Ada masanya sangat mania dengan Iwan Fals. Ada pula fase ketika bara yang meletup-letup itu redup, seiring kegenitan Iwan Fals bolak-balik garap proyek kolaborasi yang isi lagunya menye-menye penuh kegalauan. Boleh selow tapi bukan berarti melow.

Kenal lagu-lagu Iwan Fals sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi belum ngerti siapa itu Iwan Fals. Juga belum paham jenis aliran musik apa yang dia mainkan.

Saat itu saya mendengar lagu-lagunya ketika bertandang ke rumah nenek. Biasanya bermalam sehari dua di sana. Paman yang masih bujang kerap menyetel tape (ketika itu masih musim kaset) yang mengumandangkan lagu-lagu Iwan Fals.

Belakangan saya baru tahu kalau lagu-lagu yang sering saya dengar ketika itu terangkum dalam album Sarjana Muda, Sumbang dan Sugali. Secara berurutan masing-masing albumnya dirilis tahun 1981, 1983 dan 1984. Memang sudah cukup lawas.

Tanpa dinyana, momen yang hanya berlangsung sebentar-sebentar namun terus berulang itu, cukup meninggalkan bekas di benak dan batin saya. Sampai akhirnya berselang jauh setelahnya untuk kali pertama saya membeli album kaset Iwan Fals bertajuk ‘1910’.

Saya makin kesengsem dengan lirik dan warna musik yang dibawakan lelaki berambut gondrong keriwil-keriwil dengan kumis menghiasi wajah garangnya itu. Pada album tersebut terangkum lagu Buku Ini Aku Pinjam, Ibu, Ada Lagi yang Mati, Mimpi yang Terbeli, Balada Orang-orang Pedalaman, Nak,  Semoga Saja Kau Benar, Engkau Tetap Sahabatku, Pesawat Tempur dan 1910.

Jujur saja saya tumbuh sebagai ABG dengan asupan lagu-lagu yang dirilis kisaran tahun 1988 tersebut. Malah bisa dibilang selain menghapal beberapa ayat-ayat pendek Al-Quran dan sedikit pelajaran di sekolah, hafalan lain yang saya kuasai saat itu adalah lirik lagu-lagu di album ini.

Saya makin menggilai lagu-lagu penyanyi pemilik nama asli Virgiawan Listanto ini setelah mendengarkan album Mata Dewa, album Swami, dan Kantata Takwa. Bisa ditambahkan juga saya masih menyimak Album Cikal dan Belum Ada Judul secara khusyuk.

Selebihnya saya hanya mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals di album lainnya secara sepintas belaka. Daya magnet lagu-lagunya makin terasa kendor buat saya. Atau mungkin saya ini tergolong mania kafiran atau fans abal-abal. Buktinya loyalitasnya bisa luntur.

Boleh jadi demikian. Tapi saya juga ingat pernah beberapa kali menyambangi rumah Iwan yang berada di pelosok Desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok, cuma untuk ngobrol bareng tuan rumah di teras kediamannya yang asri dan luas itu.

Saya juga ingat pernah nyablon bendera Oi bareng kawan-kawan sesama penyuka Iwan Fals. Ketika itu di Bandarlampung dan bahkan Lampung belum santer geliat kelompok-kelompok Oi seperti sekarang.

Tapi sekali lagi boleh jadi saya memang bukan fans fanatik Iwan Fals. Demikian pula saat Iwan Fals menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Oi pada 21-23 April 2017 lalu. Meski beberapa hari punya peluang banyak untuk bincang-bincang bersamanya, namun getaran itu tidak semenggelegak beberapa tahun silam, sebelum dia keasyikan kolaborasi menyanyikan lagu menye-menye bareng artis-artis zaman now.

Walau sungguh, tidak bisa dipungkiri diam-diam saya tetap sangat mengaguminya, nih orang kharismanya memang kuat banget. Jangankan menyanyi, lagi ngobrol biasa saja warna vokalnya menebar wibawa. Tapi maaf saja. Kekaguman itu tidak saya tunjukkan padanya karena saya masih memendam protes pada orang ini.

Andai saja ketika disela-sela kegiatan Munas itu saya dipersilakan ngomong apa adanya dan Iwan Fals menjamin tidak bakal murka dengan apa yang akan saya sampaikan, pasti kritikan saya sudah deras berhamburan melabraknya.

“Ngapain juga loe nyanyi lagu-lagu menye-menye begituan, Wan. Gue ngerti mungkin loe merasa sekarang bukan eranya loe lagi. Gue juga paham dengan terobosan yang mesti dilakukan manajemen loe untuk tetap bisa menyiapkan panggung buat loe, Bro. Tapi bukan dengan cara kompromis sampai menanggalkan jati diri loe begini.

Gue benar-benar kecewa sama loe, Kawan. Asal loe tahu aja. Tanpa kolaborasi sama bocah-bocah itu, cukup loe bawa gitar bolong terus genjreng-genjreng nyanyiin lagu-lagu yang elo banget, gue masih berkeyakinan karcis konser loe bakal tetap sold out. Yakin gue.

Loe mesti percaya, Wan. Kalau loe itu emas. Mo rambut sama jenggot dan kumis loe penuh uban juga loe tetap emas. Nilai loe tetap tinggi di mata penggemar loe. Tobat lah, Wan. Loe masih punya penggemar setia macam gue dan banyak lagi lainnya. Percayalah sama omongan gue.

Dan mesti loe ingat, gue cukup sekali kasih tahu ini ke loe. Kalau loe tetap keukeh dengan sikap kompromis dan masih nerusin cengar-cengir loe yang nggak jelas di atas panggung sama artis-artis zaman now yang wangi-wangi dan sudah menyeret lepas jati diri loe, jangan harap orang macam gue bakal beli CD loe lagi. Loe mesti ingat itu. Bay!”

Sayangnya, nyali saya begitu ciut untuk menyampaikan langsung uneg-uneg yang sudah lama saya pendam itu. Alhasil, sampai acara Munas Oi kelar dan doi sama anak bininya cabut balik ke Leuwinanggung, saya belum sempat menyampaikan kritik berkarat padanya tersebut.

Sampai akhirnya saya mendadak begitu bersemangat menonton acara konsernya yang diberi tajuk the legend of Iwan Fals di salah satu televisi swasta. Awalnya saya menonton dengan kalem, meski sesungguhnya sambil menahan rasa girang karena kangen saya untuk melihat penampilannya secara live (meski di TV) terobati.

Namun saat ia membawakan lagu Bung Hata dan Sarjana Muda serta Sore Tugu Pancoran, sontak batin saya terketuk. Mendadak saya seperti mendapat jawaban kenapa tidak pernah berhasil menghapus pupus bayangan Iwan Fals dalam hati dan pikiran saya.

Tanpa dinyana saya mendapat jawabannya. Karena Iwan Fals tergolong pribadi yang dapat menghargai jasa orang. Simak saja betapa dia sangat menghargai Hatta dilagu Bung Hata. Bagaimana dia menghargai perjuangan seorang pemuda yang sarjana muda tapi segera menjadi pengangguran. Dengarkan pula penghormatannya kepada Budi si bocah penjaja koran yang dipaksa keadaan tidak bisa  menikmati masa kanak-kanaknya demi mempertahankan hidup.

Saya terketuk dengan kesadaran itu di tengah suasana karut-marut dan hiruk pikuk politik belakangan ini yang nggak jelas. Saya merasakan anak bangsa di negeri ini sudah gampang kagetan lalu enteng saling baku hantam komentar yang saling merendahkan. Tak ada lagi sikap ksatria yang berani bilang kalau hebat itu hebat, tanpa disangkut pautkan dengan embel-embel kepentingan politik.

Saya baru ngeh, kalau Iwan Fals ternyata sudah punya sikap ksatria itu semenjak dulu dan (mudah-mudahan) hingga sekarang. Saya jadi malu sudah sempat memendam protes padanya.

Sebab kalau saya tidak berhasil memetik hikmah dari tampilan live-nya di acara televisi itu, mungkin sebentar lagi saya akan menjadi bagian dari cebong atau kampret bersumbu pendek yang nyinyir senang baku hantam celaan. Saya juga pasti menjadi rabun atau malah buta untuk melihat kebaikan Jokowi atau Prabowo, lantaran hanya mampu memelototi kekurangannya semata.

Sudah deh, saya memang tidak mampu melupakan Iwan Fals. Walau bukan manusia setengah dewa, tapi kepribadiannya memang jauh lebih baik ketimbang saya dan juga para cebong serta kampret, mungkin. (*)

Komentar

Scroll Up