(SELOW.CO): Polemik pemilu seakan melingkar kusut tak mudah diurai. Suasana hangat kuku ini terasa makin gerah (bagi sebagian kalangan) dengan kemunculan film dokumenter “Sexy killers” yang dalam tujuh hari penayangannya di YouTube sudah dipantengin tak kurang 18 juta viewers. Apa ada hubungan antara pilpres dengan film yang muncul beberapa hari menjelang 17 April tersebut?

SEBELUM MENGARAH pada pertanyaan ini, saya mau cerita sedikit seputar pendapat saya akan film berdurasi 1.28.56 dan dibikin secara maraton nyaris selama 5 tahun itu. Wuih, bukan waktu yang sebentar untuk sebuah film.

Please jangan ngeres dulu saat menyimak judul film karya besutan jurnalis senior, Dandhy Dwi Laksono ini, meski pada opening-nya penonton langsung disuguhi pemandangan dua pasang kaki yang saling bertindih di bawah selimut sambil bergerak ritmis dan membikin saya menahan napas sejenak. Anjir….nih film memang benar-benar sexy, gumam saya untuk beberapa detik.

Namun tak berselang lama kemudian pemirsa langsung dibombardir oleh deretan gambar, data dan fakta yang mengenaskan sekaligus menggemaskan. Kesan pertama dari setengah jalan menonton film itu saya langsung menggugat, “Nih negara sebenarnya ada pemerintahnya nggak, sih?!”

Sebab, kok bisa ada begitu banyak pertambangan (legal dan ilegal) dapat leluasa merudapaksa Bumi Pertiwi, lalu pengusahanya melenggang enteng sambil meninggalkan lubang raksasa yang menganga usai kandungannya dikeruk tandas.

Belum lagi masih tersisa imbas menyesakkan bagi warga sekitar. Di Indonesia ini ada ratusan warga yang meregang nyawa di dalam kubangan galian bekas tambang. Hasil tambang memang seksi, menggiurkan, tapi juga menjadi mesin kematian bagi kaum papa. Pas benar film ini diberi tajuk “Sexy Killers”.

Jujur, usai melototi “Sexy Killers” membuat saya berpikir keras sekaligus mengusik kenyamanan. Selain memikirkan sedemikian panjang dan rumitnya proses pembuatan film itu, di sisi lain juga mendadak muncul rasa sebal dan marah yang menggelegak.

Marah pada siapa? Ya, kecewa pada pemerintah yang seakan mendadak plin-plan saat dimintai pertanggungjawaban atas penerbitan izin-izin pertambangan yang sudah dihambur-hamburkan mereka selama ini.

Saya terenyuh saat mendapati kenyataan kelam yang merundung warga di salah satu lokasi pada film Sexy Killers. Di tempat itu dulunya dikenal sebagai area lumbung padi. Persawahan warga membentang luas sejauh mata memandang. Sampai akhirnya pertambangan merangsek masuk dan dalam sekejap merubah wajah perkampungan nan asri dan damai itu menjadi bopeng. Petaka mendadak menjalar di sana.

Pada lubang bekas galian batu bara yang telah mengejawantah menjadi lubang mirip danau itu, telah bersemayam tak kurang dari 32 nyawa anak-anak warga setempat. Di film itu hati kita akan disayat-sayat saat ditampilkan bocah yang sudah kaku diangkat dari permukaan air lubang petaka. Nurani kita juga turut terenyuh diiris-iris oleh ratapan tangis orangtua korban yang sedih dan marah oleh kenyataan.

Ini kondisi yang parah abis. Makin jengkel saya saat mendapati pernyataan pemerintah pada film itu yang terlihat acuh tak acuh. Malah menganggap kematian-kematian beruntun itu sebagai takdir. Ketetapan garisan tangan yang tak terelakkan; harus mati tenggelam di kubangan bekas area pertambangan. Dengan enteng pula orang-orang itu malah meminta keluarga korban untuk bisa legowo menerima cerita hidup yang skenarionya sudah ditetapkan Tuhan tersebut.

Coba lihat sendiri bagaimana
reaksi Gubernur Kalimantan Timur yang terkesan songong karena menganggap kejadian itu sebagai kesalahan korban yang bermain di wilayah bekas area tambang.

Di lain kesempatan pemerintah pernah menggelontorkan wacana bahwa mereka bakal mereklamasi bekas kubangan tambang menjadi lokasi pariwisata. Malah di film itu pula ada tokoh besar yang bilang pada bekas-bekas area pertambangan akan dirombak menjadi kolam-kolam ikan. Huhhhh!!!…baru akan, toh?! Lha sekarang tempat-tempat itu malah sudah jadi kolam kematian, Pak!

Masih dalam tayangan Sexy Killers. Di bagian lain diketengahkan bagaimana heroisme para pencinta lingkungan Greenpeace mengusir kapal tongkang pengangkut batubara yang melewati Taman Nasional Karimunjawa. Terumbu karang di taman nasional ini rusak lantaran kerap digerudug tongkang-tongkang itu.

“Kapal Anda berada di kawasan konservasi Taman Nasional Karimunjawa yang terlarang dilewati. Kapal-kapal tongkang batubara membuat kerusakan terumbu karang di Karimun Jawa. Kami meminta kapal Anda segera keluar dari kawasan konservasi.”

Pekik suara Didit Haryo, aktivis Greenpeace, melalui gagang telepon dari Kapal Rainbow Warrior yang tersambung ke alat komunikasi kapal tongkang.

“Kami akan aksi damai tanpa kekerasan…Kami akan beraksi dengan mengecat lambung kapal Anda dengan cat air ramah lingkungan…Kami tidak akan melukai kru Anda,” sambungnya lagi sebelum menutup telepon.

Tak lama, beberapa speedboat mendekat dan mengecat dinding luar kapal tongkang penuh batubara dengan tulisan “#Breakfreefromcoal” dan “Coralnot coal.” Rainbow Warrior lalu menuntun tongkang keluar dari Karimunjawa.

Sebenarnya ini adegan yang membuat film itu enggak kalah saing dengan film layar lebar di pasaran. Tapi itu bukan bonus yang luar biasa di akhir cerita. Karena sesungguhnya masih ada “info besar” yang justru memiliki daya henyak tinggi. Misalnya tentang siapa orang di balik layar yang mestinya dituntut pertanggungjawaban atas pertambangannya yang terus saja merusak Bumi Pertiwi?

Di ujung film, sebelum saya men-shootdown laptop, saya sempat berpikir. Mungkinkah usai menonton film ini ada yang menyesali coblosannya pada pilpres kemarin? Mengingat semua kejadian tragis itu berlangsung disaat pemerintahan ada pemimpinnya.

Ukh…ruwet banget urusan ini, seruwet urusan pilpres yang sudah digelar dan tinggal menunggu hasilnya. (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up