(SELOW.CO): Ternyata “sihir” Orba masih terus membekas hingga saat ini, mungkin pula bersemayam lekat pada benak orang banyak.

JELANG PEMILU 2019 KEMARIN, sosialisasi ke masyarakat gencar dilakukan. Saya dan kawan-kawan mewakili KPU Kota Bandar Lampung, melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih ke berbagai segmen masyarakat, khususnya pemilih pemula, perempuan dan disabilitas.

Selain itu, kami juga kerap melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih ke kelompok marginal, tokoh masyarakat, termasuk kelompok prapemilih dengan cara mendatangi mereka. Tujuannya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Setiap mengadakan sosialisasi, ada nuansa dan dinamikanya tersendiri. Maklum, berbagai segmen itu berasal dari kelompok yang berbeda-beda. Karena itu, saya selalu menyiapkan materi sosialisasi yang berbeda untuk setiap segmen. Bahkan untuk segmen yang sama pun kerap materinya dibedakan, karena kalangan mereka pun berbeda.

Contoh, untuk pemilih pemula, bagi siswa SMU, perguruan tinggi, santri di pondok pesantrean, tentu harus ada sentuhan yang tak sama. Demikian pula untuk kelompok perempuan, tentu tak sama antara perempuan nelayan (marginal), ibu PKK atau dengan ibu-ibu majelis taklim.

Suatu kali, kami sosialisasi ke jemaah pengajian alias ibu-ibu majelis taklim. Sekitar 50-an ibu-ibu mendengarkan dengan takzim apa yang saya sampaikan, lengkap dengan pulpen dan sebuah buku catatan di tangan.

“Kok ibu-bu seperti di sekolahan, semua pegang alat tulis dan siap mencatat?” tanya saya iseng.
“Kami udah biasa seperti ini Bu, mencatat apa yang disampaikan pemateri. Untuk oleh-oleh bagi yang di rumah dan supaya tidak lupa,” kata seorang ibu yang duduk di depan. Usianya saya taksir sudah diatas 60 tahun.

Wow, hebat ibu-ibu ini pikir saya. Kami saja, kalau sedang ada acara, baik seminar maupun diskusi, kerap malas memegang pulpen. Hanya modal kuping dan ingatan yang potensi menghilangnya tinggi. Atau paling banter, mencatat via ponsel, yang biasanya selesai mencatat, tidak diingat lagi tentang catatan itu. Kalaupun mencatat di buku atau kertas, selesai acara, catatannya raib entah kemana, karena tidak dipelihara.

Seperti biasa, setelah membuka wawasan peserta tentang materi kepemiluan dan kewarganegaraan dengan bahasa yang mudah dan kerap kocak, saya mengadakan tanya jawab spontan. Ada souvenir dari KPU bagi yang bisa menjawab. Beberapa pertanyaan saya bisa dijawab oleh para ibu. Pertanyaan berkisar seputar pemilu, seperti kapan pelaksanaan pemilu 2019,  pemilihan apa yang kita lakukan, apa syarat untuk memilih, dan sebagainya.

Ketika saya bertanya, siapa yang bisa menyebut nama lima partai peserta pemilu berikut nomor urutnya, seorang ibu yang duduk di belakang, mengacungkan jarinya. Setelah saya persilakan si ibu menjawab, ”Nomor urut 1 Partai Persatuan Pembangunan, nomor urut 2 Golkar, dan nomor urut 3 PDIP”.

Saya yang agak terkejut dengan jawaban si ibu, minta dia mengulangi jawaban tersebut. Ternyata jawabannya tetap sama.

“Ibu kapan terakhir ikut pemilu?” tanya saya.
“Pemilihan gubernur kemarin saya milih. Pemilihan walikota juga saya milih,” kata si ibu yang usianya saya taksir sekitar 50-an tahun. Pemilihan gubernur yang dimaksud digelar pada 27 Juni 2018 dan pemilihan walikota pada 9 Desember 2015.

“Pemilu 2014 ibu ikut?”
“Ikut,” jawabnya.
“Berapa partai peserta pemilunya?”
“Sama, ada tiga.” Si ibu pun dengan percaya diri menyebut nama dan nomor urut partai yang dikemukakannya tadi.

Oalah… saya pun menjelaskan, bahwa nomor urut partai seperti yang dia sebut itu adalah pada era Orde Baru. Sejak pemilu 1999 nomor urut parpol berubah setiap kali akan pemilu. Dan jumlah peserta pemilu pun tidak hanya tiga saja.

Si ibu yang menjawab tadi pun tertawa kecil mendengar penjelasan saya. Sementara ibu-ibu yang lain, hanya tersenyum mesem-mesem. Mereka tidak bersorak sorai layaknya saat saya sosialisasi ke pemilih pemula yang saling mentertawai temannya ketika salah dalam menjawab. (*Komisioner KPU Kota Bandarlampung)

Komentar

Scroll Up