(SELOW.CO): Reputasi hastag atau tagar sedang moncer belakangan ini. Saking terkenalnya banyak orang keranjingan tagar. Dikit-dikit tagar. Emang anak mana sih si Tagar itu? Ups!

USAI MENDIRIKAN salat tarawih, saya berselancar di media sosial. Seperti biasa, banyak cerita di sana. Menu berbuka, kisah para orangtua yang melatih anaknya berpuasa, rencana pulang kampung yang entah bisa terealisasi atau enggak, situasi sosial politik di tanah air, hingga harga kebutuhan pokok yang bikin menggigil dan sebagainya.

Tapi ada juga postingan yang mengajak saya berpikir cukup serius, “Kenapa sih sekarang banyak banget muncul tagar-tagar? Save inilah, save itulah. Mumet aku tuh bacanya,” begitu kira-kira.

Tagar adalah lakuran atau penggabungan dari kata tag dan pagar, simbolnya #. Disarankan pertama kali oleh Chriss Messina melalui tweet pertamanya pada tahun 2007.

Baru pada 2009, twitter menjadikan # (hastag atau tagar) sebagai fitur resmi. Lalu disusul oleh instagram, Google+ dan facebook. Fungsi tagar antara lain untuk mengelompokkan pesan dan menggiring kita mengetahui lebih dalam dan tajam atas suatu hal. Terkadang cukilannya malah bisa melebihi media online, loh. Dahsyat, kan?

Di facebook, instagram, apalagi twitter, tagar merupakan pintu masuk tentang apa yang ingin diketahui. Penggunaan tagar untuk mem-branding produk di sosial media sudah sangat biasa. Siapa saja boleh menggunakan tagar. Tapi ada juga yang membuat tagar berdasarkan pesanan klien. Mereka ini biasa disebut buzzer. Buzzer dituntut untuk profesional, mengetahui dengan baik suatu produk dan berusaha menjadikannya trending topic (akan ada di tulisan berikutnya).

Yang menarik perhatian adalah maraknya tagar dengan isu sosial, politik dan ekonomi. Luar biasa penampakannya, terutama menjelang pilpres kemarin. Namun selesai pilpres bukannya mereda, eh tagar-tagar itu malah meradang makin ‘ganas’ dan masif. Coba deh tengok di twitter, sereeeeem…

Bagi saya, tagar-tagar tersebut merupakan akibat, bukan sebab. Tak akan ada tagar Ganti Presiden jika rakyat mendukung penuh kinerja pemerintah. Tak akan ada tagar Save Ulama jika para orang alim itu tak dipersekusi.

Atau tak akan ada tagar KPU Jangan Curang jika tak ditemukan ribuan video keanehan dari masyarakat. Tak akan ada tagar Ratna Sarumpaet Ratu Hoaks jika dia tak menyebarkan kebohongannya. Lalu tak akan ada tagar Save NKRI jika tak terjadi kekisruhan yang ingin memecah belah rakyat. Sampai-sampai tak akan ada tagar Tolak Obor jika tak ada pemahaman betapa akibat dari kerjasama ini lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Di berbagai peristiwa tersebut, fungsi tagar adalah untuk mem-booming-kan isu agar terus terpantau oleh rakyat dan syukur-syukur berdampak pada pengambilan kebijakan. Ketika kita klik #saveulama contohnya, maka akan muncul berita-berita dan atau informasi beberapa ulama yang dilarang untuk khotbah atau berpartisipasi dalam  tabligh akbar. Masyarakat jadi tahu dan bergerak untuk berani membela.

Ada juga tagar yang bikin panas dingin, biasanya ini sensitif di area politik. Tagar SiXNggakBisaNgaji, SiYAnakPKI, XPengecut, JumatanDimana dan sejenisnya, sempat menguasai jagat twitter dan
-beneran- itu bikin panas level akut.

Sudahlah tagar gaje (nggak jelas) ditambah lagi retweet yang nyinyirnya beuugh bikin mules dan kudu banyak-banyak istighfar. Iya sih dapat materi (untuk yang memang buzzer beneran) tapi bagaimana dengan idealisme dan reputasi? Jatuh, Bro. Butuh kerja keras berkali lipat untuk bisa mengembalikan kepercayaan lagi.

Yang terbaru, tagar Save Dokter Ani Hasibuan. Apa sebab? Silakan dicari. Seperti saya bilang, tagar-tagar (yang bukan hasil buzzer) biasanya merupakan akibat. Akibat dari kecewanya rakyat atas carut marutnya negeri yang dulu dikenal gemah ripah loh jinawi ini. Akibat dari sistem yang tak berjalan baik. Akibat dari beberapa pihak yang dengan gaya jagoan melompati pagar.

Jadi, berdamailah dengan dunia maya. Bijak-bijak mencermatinya. Semoga suatu saat dunia media sosial akan diramaikan dengan tagar-tagar dengan konten serta arahan yang mencerdaskan dan menggembirakan. Berdoa, mulai. (*Penulis Cerita Anak)

Komentar

Scroll Up