(Selow.co): Bunga yang satu ini lebih tercela dari bau menyengat bunga Bangkai (Amorphophallus titanum). Bahkan lebih menjijikan dari ‘bunga pasir’ sekalipun.

Tapi modernitas telah menyihir bunga itu menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual hedonisme. Dan saya, kamu atau kita semua mungkin sudah ikut-ikutan terhipnotis mensakralkannya. Sehingga menganggap wajar atau malah merasa wajib melibatkan bunga ini dalam setiap detak nadi bernuansa ekonomi. Sudah demikian terkutukkah kita?!

Suguhan kopi dihadapan saya terlalu lama menunggu. Ia jemu lalu kehilangan gairah, tidak hangat lagi. Dan saya tetap tidak menggubrisnya. Padahal sebelumnya saya paling suka menyeruput kopi yang airnya masih mengepulkan uap panas. Kali ini tradisi itu saya langgar.

Obrolan bersama kawan lama jauh lebih menggairahkan menurut saya. Bahkan sensasinya mampu menyandera alam pikir saya hingga tak bisa berkutik untuk memikirkan hal lain. Iya, cerita kawan itu begitu dahsyat bagi saya yang alam pikirnya masih mudah kagetan ini.

Benar, mudah banget kagetan. Misalnya mudah kaget karena mendengar ada guru sanggup menjewer telinga muridnya sampai sobek dan perlu diberi tiga jahitan. Lalu cepat kaget saat tahu ternyata ada kepala daerah yang citranya sangat agamis tapi setelah boroknya dibongkar KPK baru ketahuan watak aslinya yang serakah.

Lalu saya juga gampang kaget ketika sadar isi dompet sudah menipis, padahal masih banyak keperluan. Pokoknya saya tergolong orang yang mudah kaget dengan hal-hal yang bagi orang lain mungkin dianggap sepele.

Saya menduga kondisi saya yang suka kagetan ini, tidak terlepas dari kelalaian almarhum ibu saya yang lupa menggebrak bantal saya sewaktu saya masih bayi merah dulu. Sayangnya, saya tidak bisa mengkonfirmasinya karena alam kami sudah berbeda sekarang. Semoga ibu saya tenang di alam sana. Aamiin…

Balik lagi ke cerita kawan saya tadi. Ternyata dia sudah punya aktivitas baru. Kini, saban pagi hingga sore, dia bersama istrinya membuka kedai kopi di kampus Unila. Mereka menjajakan sekaligus melayani para pengunjung kedainya.

Padahal setahu saya dia sebagai kepala cabang sebuah bank terkemuka di negeri ini. Tapi kok aktivitas hari-harinya sekarang malah ngurusin kedai kopi. Kapan ngantornya, Lur?!

“Iya memang, saya nggak kerja di bank lagi. Saya sudah resign. Sekarang saya jualan kopi di kampus Unila. Kedai kecil-kecilan,” ujar kawan saya itu, tapi wajah dan nada suaranya tidak menunjukkan keprihatinan, malah terkesan bangga.

Di situlah letak kekagetan saya. Resign dari bank disaat karirnya sedang menanjak, lalu malah banting setir berjualan kopi. Busyet..!

Sesungguhnya kekagetan saya itu bukan semata karena mendengar cerita dari satu kawan ini saja. Karena sebelumnya ada dua kawan lainnya yang juga bercerita hal yang nyaris serupa.

Kawan pertama adalah seorang perempuan. Di saat masih SMA dulu dia duduk persis di depan meja saya, dan seingat saya dia pernah beberapa kali memberi contekan jawaban ulangan saat saya kelimpungan menemui jalan buntu.

Sedangkan kawan satunya lagi seorang laki-laki dan sangat tengil saat masa sekolah dulu, bahkan sampai sekarang tetap konsisten tengil. Dia duduk persis di belakang saya, dan bocoran jawaban dari kawan perempuan tadi acapakali saya oper ke dia yang juga langganan bengong kalau ada ulangan dadakan dari guru killer.

Nah, kawan saya yang perempuan itu sebelumnya juga pernah ngobrol dengan saya lewat whatsApp. Dia minta didoakan agar diberi ketetapan hati untuk segera resign dari pekerjaannya.

Saya tahu dia bekerja di bank dengan posisi jabatan yang lumayan menggiurkan. Tapi yang saya nggak ngerti betapa gegabahnya dia minta didoakan oleh saya, lha wong saya sendiri masih suka tidak yakin kalau doa saya bakal diijabah Tuhan.

Tak lama berselang, saya bertemu dengan kawan saya yang tengil itu. Awalnya saya pikir dia sedang bercanda saat bilang kalau istrinya yang menjadi teller di sebuah bank swasta juga akan segera resign. Tapi kali ini dia berkata serius.

Rentetan cerita dari kawan-kawan saya itulah sesungguhnya yang membikin saya terkaget-kaget. Mengapa seakan-akan sedang ada gerakan orang berhenti bekerja dari bank. Apakah dunia perbankan sudah tidak dapat lagi memberi jaminan kesejahteraan pada orang-orang yang terlibat di dalamnya?

Saya ingat kedua kawan saya menggeleng saat saya tanyakan itu. Mereka bilang gaji, insentif dan bonus mereka besar. Sedangkan kawan saya yang tengil mengaku gaji istrinya sebagai teller lumayan besar. Dengan demikian hipotesa saya langsung terbantahkan. Lalu apa penyebab dari semua keputusan mereka hengkang dari dunia perbankan?!!!

Karena takut mati masih dalam kondisi makan uang riba. Begitu jawaban tak terduga yang terlontar dari mulut mereka.

Kalau pun baru sekarang kesadaran itu muncul, saya tetap apresiatif atas keberanian mereka mengambil keputusan yang tidak mudah tersebut. Bagi saya, keputusan itu sungguh luar biasa!!!

Sementara kita yang juga paham adanya unsur riba di dunia perbankan, kendati kita bukan pegawai di salah satu bank, bahkan tercatat sebagai member bank keliling pun tidak, namun nyatanya masih juga berhubungan dengan hal-hal semacam itu sampai hari ini.

Sebagai contoh, kita masih rutin saban bulan setor bunga pinjaman bank. Atau baru mau berencana mengagunkan sertifikat rumah atau BPKB ke bank yang ujung-ujungnya bersinggungan juga dengan bunga pinjaman. Astaganaga, bagaimana ini?!!!

Masih menurut kawan-kawan saya tadi, jawabannya tetap sama: riba, dan itu haram!!!!!!!

Terdorong rasa penasaran yang menggelegak akan betapa dahsyatnya dalil itu, saya menyempatkan diri membuka youtube.

Saya ketik hukum riba dan Ustad Abdul Somad. Maksudnya, saya ingin tahu isi ceramah tentang riba yang disampaikan oleh dai yang dijuluki sebagai ‘dai sejuta views’ itu, lantaran videonya di YouTube tercatat sudah jutaan kali ditonton.

Saat video dengan tema yang saya cari tampil, saya langsung terperangah dengan paparan UAS yang serius namun disampaikan dengan mimik wajah dan nada kocak.

Ada beberapa ancaman bagi pemakan riba, ucap UAS. Pertama, jika nanti tiba waktunya bangkit dari kubur, para pemakan riba akan seperti orang yang sedang kerasukan setan. Kayak orang kesurupan atau kena sambet.

Kedua, doa orang-orang pemakan riba tidak akan pernah dikabulkan Allah. Alias ditolak, tidak di-ACC.

Ketiga, memakan makanan hasil riba akan mengalir di darah. Artinya, seluruh aliran darahnya mengandung hal haram. Kalau memberi makan kepada anak dan istri dari duit riba, itu sama saja sedang menyuapkan api neraka ke mulut mereka. Dan segala yang tumbuh dari yang haram tempatnya di neraka.

Keempat, ibadah termasuk naik haji dengan duit hasil riba tidak akan pernah diakui Allah. Karena berasal dari sumber yang haram. Allah maha suci maka hanya menerima yang suci-suci semata.

UAS juga menyinggung perihal hadis yang menyebut ada 72 tingkatan riba. Kalau 72 tingkatan itu diibaratkan sebagai anak tangga, maka anak tangga yang paling bawah menyetarakan hukum riba seperti orang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. “Padahal itu baru untuk jenis riba yang paling rendah!” terang UAS.

Saya langsung bergidik mendengarnya! Mungkinkah kawan-kawan saya itu sebelumnya juga menonton video UAS ini. Dan mungkinkan orang-orang yang masih bekerja di dunia perbankan menandakan belum pernah menyimak video tersebut, atau sesungguhnya sudah mengetahui namun mengabaikannya.

Atau mengapa kerja di bank masih menjadi profesi idaman sebagian kaum muda. Okelah, mereka masih berdarah muda yang mungkin bisa dianggap belum kental kadar pemahaman agamanya. Tapi bukankah mereka memiliki orangtua yang semestinya sudah lebih paham akan ajaran agama?

Hmmm…entahlah!!! (*)

Komentar

Scroll Up