(Selow.co): Kuda laut yang tampak imut ternyata tergolong hewan purba. Uniknya lagi Lampung punya penangkaran kuda laut terbesar se-Nusantara. Wow…!

Saat mengunjungi lokasi penangkaran itu, redaksi Selow.co mesti berdecak kagum berkali-kali. Selain tidak menduga ada tempat seperti ini di Lampung, kekaguman lainnya karena begitu telatennya para penangkar mengurusi hewan langka yang dalam bahasa Latin disebut Hippocampus sp ini.

Penangkaran kuda laut yang berlokasi di Kabupaten Pesawaran, tepatnya di wilayah Hanura (bila datang dari arah Bandarlampung posisinya setelah Pantai Mutun dan Taman Hutan Raya Wan Abdulrahman) ini dikelola oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL). Lembaga tersebut menjadi satu-satunya institusi pemerintah di Nusantara yang membudidayakan ikan air laut.

Dipandu Teknisi Budidaya Kuda Laut BBPBL, Sugianto, diketahui penangkaran ini fokus membudidayakan 2 jenis kuda laut yaitu kuda laut karang dan kuda laut rumput. Untuk membedakan keduanya terbilang mudah saja, yakni dengan melihat ciri fisik.

Sugianto rutin mengawasi bak penangkaran.

“Kalau jenis kuda laut karang memiliki ciri fisik mirip seperti hewan Zebra, ada dominasi hitam diselingi garis-garis putih. Sedangkan kalau jenis kuda laut rumput warnanya lebih terang tanpa disertai pola garis. Jadi polos saja,” terangnya, seraya menambahkan, bila kuda laut rumput memiliki pola gerakan yang terbilang lebih agresif ketimbang jenis kuda laut rumput.

Disebutkan Sugianto, perilaku hewan yang terkategori spesies ikan itu, termasuk tidak lazim. Seperti misalnya bukan kuda laut betina yang menjaga dan mengerami telur seperti hewan air lainnya. Khusus kuda laut yang melakukan tugas itu justru pejantan.

Soal pengembangbiakan, kuda laut siap dikawinkan minimal berumur 6 bulan. Sedangkan usia paling ideal bila sudah memasuki umur 8 bulan. Tidak butuh waktu lama untuk sepasang kuda laut memadu kasih, bahkan hanya dalam hitungan detik pasangan yang sudah berlibido tinggi itu bisa langsung berhubungan intim. Hemmm..

Hasilnya, setelah 9 sampai 12 hari pengeraman, barulah anakan kuda laut atau yang biasa disebut juwana, ‘diizinkan’ melihat alam bebas. Juwana-juwana imut itu akan dikeluarkan secara bertahap.

“Masa pengeraman berlangsung selama 12 hari,” terang Sugianto, sambil menambahkan, kuda laut tidak mengenal ‘musim kawin’ sebab ketika juwana muncul, indukan betina sudah langsung dapat bereproduksi kembali.

Untuk makanan, kuda laut biasa mengonsumsi beragam mikroorganisme atau biasa dikenal zooplankton. Dari hasil penangkaran ini, saban tahun BBPBL Lampung mampu menghasilkan tidak kurang dua ribu ekor kuda laut yang kemudian dilepas liar kembali ke habitat aslinya di sekitaran Pulau Pahawang. (red)

Komentar

Scroll Up