(SELOW.CO): Kepedulian guru disoal dan dianggap kelewat batas, jangan-jangan karena takut dipersalahkan lagi si guru bakal gagap bersikap dan malah kehilangan rasa perduli pada murid. Waduh!

BEBERAPA WAKTU LALU viral kasus wali murid menggunting rambut guru karena tak rela rambut anaknya yang gondrong dipotong. Di daerah lain, seorang guru dilaporkan ke polisi karena sudah menjewer telinga muridnya tersebab ribut dan mencontek di kelas.

Dari dua kejadian ini, guru berada pada posisi yang mengkhawatirkan dan serba salah. Mendidik dengan disiplin takut dibilang melakukan kekerasan. Terlalu lunak juga kesannya tak ada wibawa dan lemah.

Guru adalah orangtua kedua. Di sekolah mereka ‘pengendali’ atas murid-muridnya. Menegur dengan lembut, merangkul dengan hangat dan memposisikan sebagai teman yang asyik. Begitulah sejatinya.

Balik ke cerita cukur mencukur.
Dua minggu lalu, bujang saya yang kelas 9 pulang sekolah sambil cengengesan plus mengucek-ngucek rambutnya. “Nda, liat, deh. Rambut aku digunting guru,” ucapnya santai. Saya usap rambutnya dan berusaha merapihkan dengan jari supaya terlihat jelas bagaimana bentuknya. Hmm, acak-acakan. Ada yang panjang, ada yang pendek.

“Kan sudah dari minggu lalu Bunda ingetin supaya cukur rambut. Mamas nunda-nunda melulu. Ya gini deh akibatnya,” balas saya selow, “Siapa yang potong?”

“Pak X, Nda. Ini aku mendingan, si A parah banget, zigzag gitu,” dia terkekeh, mungkin membayangkan wajah temannya yang terlihat setengah pasrah, seperempat takut, seperempat laginya kesal.

Sebenarnya, saya pun senewen lihat rambut banyak anak cowok sekarang. Iya sih di bagian pinggir dibikin cepak rapi, tapi yang di bagian atasnya itu loh, dibiarkan lebat dan tumbuh subur. Kalau pakai pomade, lumayan nyaman memandangnya. Tapi kalau enggak, ya kayak zaman baheula, model si kuncung, begitu anak 80-90 an menyebutnya.

“Bunda enggak marah, kan?” sergah buah hati saya. Marah?….hmmm, saya tak langsung menjawab. Saya malah teringat dengan isi pemberitaan belakangan ini perihal wali murid yang berangasan melabrak guru lantaran sudah memotong rambut anaknya. Lebay banget! Menurut saya bisa jadi si anak ngadunya berjilid-jilid kayak sinetron sehingga bikin ortunya sebel atau memang sang ortu yang tipikal “sumbu pendek”.

“Hmm, tadi dimarahin nggak sama gurunya? Trus gimana perasaan Mamas?” ucap saya malah balik tanya.

“Ya dimarahin lah, Nda. Kan, memang kita orang salah. Anak sekolah kok rambutnya gondrong. Tau nggak, Nda, gondrong itu bisa ngundang anak sekolah lain bikin masalah dengan kita, loh. Nah, selain emang potong rambut itu biar rapi, guru-guru itu juga pasti mau jaga supaya anak muridnya aman selama di luar sekolah,” sahutnya panjang lebar, “Aku nggak kesel, Nda. Tadi abis selesai dicukur dan balik ke kelas, kami malah saling ngetawain. Penampilan jadi pada aneh.”

“Kapok?”
“Iya, tapi dikit, hehehe.”
“Huuu…dasar!”

***

Saya jadi ingat saat masih SD. Dulu guru memotong rambut anak cowok sambil ceramah melebihi kultum. Lama dan pakai acara cubit pinggang. Setelah itu disuruh bercermin. Anak-anak yang tadinya takut, malah tertawa dan saling mengejek. Bahkan gurunya juga ikut-ikutan.

Selesai ketawa-ketawa, ada ceramah sesi kedua. Tapi lebih santai dan fokus pada pembinaan. Guru minta maaf, menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan adalah agar kami taat peraturan, menjaga ketertiban dan kerapian.

Lalu saat pulang ke rumah, apa dimarahin juga? Saudara-saudara cowok saya sih iya. Sudahlah dimarahi, digangguin pula. Kata mama begini, “Coba, Pipi ambil tempurung kelapa, kita jadiin cetakan untuk memotong rambut uda-udanya ini.” Hihihi, itu para cowok langsung protes. Kebayang kan model rambut seperti apa jadinya.

Akhirnya, mama mengajak ke tukang cukur di  Pasar Tengah. Saya biasanya ikut, soalnya setelah itu kami mampir ke mi ayam langganan. Berkah untuk sang saudara perempuan.

Jadi intinya, taatilah peraturan.
Di sekolah, murid-murid diwajibkan berpenampilan rapi, berperilaku santun dan belajar dengan tekun. Itu saja.

Orangtua juga jangan lebay. Anak sampai gondrong, bukankah kita yang wajib mengingatkan dan menyelesaikannya di rumah? Selagi tak ada kekerasan fisik dan verbal yang berlebihan, terima saja konsekuensi atas ke’abai’an kita. Kecuali kalau ada tanda lebam biru atau pelecehan, wajib kita kroscek ke teman-teman dan gurunya. Jika ada yang tak berkenan, bicarakan baik-baik. Itu lebih santun dan elegan.

Balik ke cerita si bujang saya. Dua minggu berikutnya, dia ngadu lagi.

“Bunda, rambut aku tuh masih dibilang gondrong bagian atasnya. Suruh potong lagi,” ucapnya nyengir-nyengir ngeselin.

“Weleh, kemaren 50 ribu sama tambahan jajan. Masa satu bulan harus ngabisin 100 ribu untuk potong rambut doang? Besok-besok jangan potong kayak gini lagi. Langsung cepak ABRI, biar hemat!” sergah saya mulai keluar taring.

Lalu apakah benar dia potong cepak? Ternyata enggak. Si bujang tetap potong gaya kemaren tapi lebih tipis. “Aku nggak keren kalau potong cepak. Maaf ya, Nda,” sahutnya buru-buru sebelum sebuah cubitan gemas mendarat di pinggangnya.

Ya, sudahlah. Mari kita tanggung segala konsekuensi secara bijaksana, ucap saya. Tapi kali ini cuma di dalam hati. (*Penulis, bisa dijumpai di instagram: @fitri_restiana dan FB: fitri restiana)

Komentar

Scroll Up